Saham Konglomerat 2025: Euforia Berlanjut atau Rebalancing 2026?

persen

JAKARTA – Kinerja saham-saham perusahaan konglomerasi mencuri perhatian sepanjang tahun 2025. Analis merekomendasikan investor untuk tetap mencermati pergerakannya di tahun 2026, namun dengan strategi yang lebih selektif.

Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), menyampaikan bahwa fundamental perusahaan akan menjadi kunci utama dalam memilih saham konglomerat.

“Di tahun 2026, strategi pada saham konglo akan bergeser dari sekadar spekulasi pertumbuhan menjadi pertumbuhan berbasis fundamental,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2025, saham-saham dari grup besar seperti Grup Barito, Grup Salim, dan Grup Astra seringkali menjadi motor penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun, Chory mengingatkan investor tentang risiko yang ada, seperti valuasi yang sudah terlampau mahal (overvalued) pada beberapa saham setelah mengalami reli panjang.

Ia menyarankan agar investor memilih grup konglomerasi yang memiliki eksposur kuat pada sektor-sektor yang didukung pemerintah, seperti hilirisasi dan infrastruktur digital.

“Lakukan rebalancing jika harga sudah jauh melampaui nilai intrinsiknya,” imbuhnya.

Sebagai informasi, beberapa saham konglomerat mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang tahun 2025. Saham BRPT milik Prajogo Pangestu misalnya, melonjak 240,22% sejak awal tahun. Saham BUVA milik Hapsoro Sukmonohadi atau Happy Hapsoro juga meroket 1.583,82%, dan saham WIFI milik Hashim Djojohadikusumo naik 692,68% secara year to date (YTD).

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca menjadi tanggung jawab masing-masing.

Rekomendasi