Jakarta – Produsen pupuk dan petani di Jerman kini menghadapi tekanan besar setelah perang Iran memicu lonjakan harga energi dan mengganggu pasokan pupuk global. Dampaknya tidak hanya dirasakan industri, tetapi juga memunculkan kekhawatiran baru terhadap ketahanan pangan di sejumlah kawasan dunia.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran disebut mengguncang rantai pasok pupuk internasional. Jalur strategis itu selama ini dilalui sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia, sehingga gangguan di sana langsung memicu kekhawatiran, terutama di Afrika dan Asia Selatan.
“Penutupan Selat Hormuz menunjukkan bahwa jalur laut masih bisa runtuh seperti dulu,” ujar juru bicara produsen pupuk SKW, Christopher Profitlich, seperti dilansir AFP, Minggu (3/5).
SKW, produsen urea terbesar di Jerman, kini menjalankan pabriknya secara penuh untuk menutup kekurangan pasokan global. Perusahaan yang berbasis di Wittenberg itu memperkirakan pendapatan bisa naik 10 hingga 20 persen tahun ini, meski pasar masih dibayangi ketidakpastian.
Di sisi lain, lonjakan biaya energi menjadi persoalan utama. Sekitar 80 persen produksi SKW bergantung pada gas, yang harganya sudah melonjak dua kali lipat sejak konflik pecah pada akhir Februari.
CEO SKW Carsten Franzke menegaskan perusahaannya tidak mencari untung dari situasi perang.
“Kami bukan pihak yang mengambil keuntungan dari perang. Kemungkinan kami hanya akan mencapai titik impas karena biaya energi yang sangat tinggi,” katanya.
Franzke mengatakan kenaikan biaya produksi memang bisa diteruskan kepada konsumen. Namun, beban itu sulit dialihkan sepenuhnya karena pelanggan utama mereka, yaitu petani, belum tentu sanggup menanggungnya.
“Masalahnya, pelanggan kami yaitu petani, belum tentu bisa meneruskan biaya itu,” ujarnya.
Kondisi tersebut mulai terasa langsung di kalangan petani Jerman. Gerhard Geywitz, petani di Baden-Wuerttemberg, mengatakan harga pupuk sudah naik hingga 50 persen sejak perang dimulai.
Ia menilai harga komoditas pertanian global yang relatif stagnan membuat dirinya harus menanggung sendiri kenaikan biaya tersebut.
“Jika perang berlanjut, saya khawatir akan terjadi kelangkaan pupuk tahun depan,” ucapnya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan itu, Geywitz memilih menimbun stok pupuk sebelum harganya naik lebih tinggi.
Asosiasi Produsen Pupuk Jerman (BVDM) juga mengingatkan bahwa ketergantungan pada pasar global dapat menjadi risiko besar bagi ketahanan pangan Eropa.
“Tanpa produsen lokal dan pertanian yang kompetitif, ketahanan pangan di Eropa akan terancam serius,” demikian pernyataan BVDM.
Krisis ini turut memunculkan kembali perdebatan soal daya saing industri Eropa yang dinilai kalah bersaing dengan negara lain, terutama dalam hal biaya energi dan standar lingkungan.
Sejumlah pelaku industri kemudian mendesak Uni Eropa meninjau ulang kebijakan perdagangan karbon agar beban sektor industri bisa berkurang. Komisi Eropa menyatakan tengah mengkaji isu tersebut.

























