Padang – Keberagaman etnis di Kota Padang menjadi modal utama pemerintah setempat untuk mengejar pengakuan dunia sebagai Kota Gastronomi UNESCO pada 2027 mendatang. Harmoni budaya yang telah terjalin lama diyakini mampu menjadi daya tarik kuliner yang bernilai jual tinggi di kancah internasional.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah mematangkan dokumen pengajuan untuk mengikuti seleksi nasional. Nantinya, hanya dua kota terbaik dari 17 kandidat yang akan dipilih oleh kementerian terkait untuk mewakili Indonesia di tingkat dunia.
“Kami berharap penuh Kota Padang bisa menjadi wakil Indonesia di bidang gastronomi. Semoga berkas kita lolos agar kuliner Padang resmi mendapatkan pengakuan internasional pada 2027,” ujar Yenni, Selasa (16/6).
Yenni menjelaskan, kekuatan utama kuliner Padang terletak pada sejarah akulturasi budaya yang dikenal dengan istilah “Urang Padang Jalan Barampek”. Perpaduan tradisi antara etnis Minangkabau, Tionghoa, India, dan Nias telah menciptakan kekayaan cita rasa yang unik.
Ia mencontohkan, pengaruh etnis Tionghoa terlihat pada Nasi Padang versi peranakan di Kampung Pondok, sementara jejak etnis India keturunan Tamil sangat dominan pada racikan rempah soto lokal dan Martabak Malabar.
“Keberagaman etnis di Padang tidak membuat mereka memasak secara terpisah, melainkan saling memperkaya rasa masakan Padang itu sendiri,” tambah Yenni.
Menurutnya, gastronomi bukan sekadar urusan rasa, melainkan perpaduan seni memasak dan nilai sejarah. Langkah strategis ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas kota sebagai warisan budaya tak benda, tetapi juga mampu menggerakkan sektor UMKM.
Pemko Padang optimistis bahwa label UNESCO akan memberikan dampak ekonomi signifikan. Pengakuan internasional tersebut diyakini mampu mendongkrak arus kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, yang pada akhirnya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).




















