Jakarta – Mayoritas mata uang di kawasan Asia mencatatkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang semester pertama tahun ini. Data dari Trading Economics per 16 Juni menunjukkan volatilitas yang signifikan di pasar valuta asing Asia, dengan Toman Iran mencatatkan depresiasi paling tajam dibandingkan mata uang lainnya di benua tersebut.
Toman Iran mengalami pelemahan ekstrem sebesar 3.171 persen secara year to date. Kondisi ini dipicu oleh akumulasi tekanan ekonomi yang berkepanjangan, sanksi internasional yang ketat, serta eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus menggerus kepercayaan pasar terhadap mata uang domestik Iran.
Dampak dari anjloknya nilai tukar tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat melalui lonjakan harga kebutuhan pokok. Data mencatat inflasi tahunan Iran menyentuh angka 77,2 persen pada Mei 2026, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 1942. Bahkan, inflasi untuk barang kebutuhan sehari-hari tercatat mencapai 113,8 persen, menandakan bahwa harga-harga di pasar telah melonjak lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu satu tahun.
Di luar kasus Iran, pelemahan mata uang di negara-negara Asia lainnya berada pada rentang yang lebih moderat. Rupee Sri Lanka mencatatkan depresiasi sebesar 7,78 persen terhadap dolar AS. Kondisi serupa dialami oleh Rupiah Indonesia yang melemah 6,14 persen, Rupee Nepal 6,17 persen, serta Rupee India yang terdepresiasi sebesar 5,08 persen sepanjang tahun berjalan.
Sementara itu, tren berbeda justru ditunjukkan oleh sejumlah mata uang lain di Asia yang berhasil mencatatkan penguatan signifikan terhadap dolar AS. Dram Armenia memimpin dengan apresiasi sebesar 10,02 persen, diikuti oleh Shekel Israel sebesar 8,72 persen, Afghani Afghanistan 4,65 persen, Tenge Kazakhstan 4 persen, serta Yuan Cina dengan penguatan 3,1 persen.
Penguatan Shekel Israel menjadi sorotan utama bagi para analis ekonomi global, mengingat pencapaian tersebut terjadi di tengah situasi perang yang sedang berlangsung. Mata uang ini bahkan dilaporkan sempat menyentuh level terkuatnya dalam 33 tahun terakhir. Para pengamat menilai ketahanan Shekel didorong oleh kinerja ekspor yang solid dari sektor teknologi dan pertahanan. Selain itu, penurunan premi risiko dan derasnya arus investasi asing yang masuk ke Israel menjadi faktor pendukung utama yang menjaga stabilitas serta penguatan nilai tukar tersebut di tengah ketidakpastian geopolitik yang tinggi. Fenomena ini menunjukkan adanya divergensi performa ekonomi yang cukup lebar antarnegara di Asia di tengah fluktuasi indeks dolar AS yang terus berlanjut.
























