Jakarta – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman menyatakan pemerintah perlu menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi agar penguatan kurs rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berlanjut.
“Agar tren penguatan IHSG dan rupiah dapat terjaga, pemerintah perlu terus menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi melalui disiplin fiskal, kepastian regulasi, serta pengelolaan APBN yang lebih efektif dan produktif,” ujar M Rizal Taufikurahman pada Selasa (16/6/2026).
Selain itu, lanjut dia, upaya menjaga kredibilitas kebijakan tersebut juga harus diiringi dengan percepatan reformasi struktural, peningkatan investasi, penguatan sektor industri, serta perbaikan daya beli masyarakat.
Ia mengatakan hal tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.
“Penguatan pasar keuangan yang berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila didukung oleh fundamental ekonomi yang semakin kuat dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” kata Rizal.
Ia menuturkan, IHSG berpotensi kembali menuju level 8.000 dalam kisaran 12 hingga 18 bulan. Sementara itu, nilai tukar rupiah, dalam pandangan yang lebih realistis, diprediksi dapat pulih ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS dalam waktu satu hingga dua tahun.
Proyeksi tersebut dapat terealisasi dengan asumsi kondisi global semakin kondusif, suku bunga global mulai menurun, dan reformasi ekonomi domestik berjalan secara konsisten.
Meski demikian, ia menekankan pemulihan IHSG dan kurs rupiah tidak hanya bergantung pada sentimen pasar, tetapi juga sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat investasi, meningkatkan produktivitas, dan membangun kredibilitas kebijakan.
“Sehingga penguatan pasar keuangan dapat berlangsung secara lebih berkelanjutan dan menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas,” ucap Rizal.
Layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026). – (Republika/Thoudy Badai)
Nilai tukar rupiah cenderung menguat pada pembukaan perdagangan dalam sepekan terakhir. Pada Selasa (9/6/2026), rupiah dibuka pada level Rp 18.134 per dolar AS, kemudian menguat menjadi Rp 17.900 per dolar AS pada Rabu (10/6/2026).
Kurs rupiah bergerak ke level Rp 17.941 per dolar AS pada Kamis (11/6/2026), lalu kembali menguat menjadi Rp 17.930 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026), dan melanjutkan tren positif ke level Rp 17.778 per dolar AS pada Senin (15/6/2026).
Sementara itu, IHSG pada pembukaan perdagangan selama sepekan terakhir tercatat berada di posisi 5.344,69 pada Selasa (9/6/2026), lalu menjadi 5.744,06 pada Rabu (10/6/2026), 5.899,27 pada Kamis (11/6/2026), 5.960,27 pada Jumat (12/6/2026), dan kemudian 6.118,73 pada Senin (15/6/2026).
Sebelumnya diberitakan, CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengeklaim pertemuan langsung dengan 122 investor global di Amerika Serikat (AS) berhasil memulihkan sentimen positif serta kepercayaan pasar internasional terhadap kebijakan ekonomi Indonesia. Pertemuan dengan ratusan pengelola dana asing tersebut dirancang khusus oleh pemerintah. Langkah itu bertujuan membalikkan persepsi negatif global terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan baru.
“Korelasinya sebetulnya sangat kuat karena yang kita temui ini kurang lebih 122 investor dan mereka adalah investor yang berinvestasi di pasar modal Indonesia juga,” kata Rosan di Ruang Sidang Kabinet Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Rosan menyatakan para pemodal internasional sebelumnya sempat meragukan komitmen pemerintah terhadap kebijakan fiskal dan iklim investasi domestik. Karena itu, kunjungan kerja ke luar negeri tersebut juga dimanfaatkan untuk menjelaskan fungsi Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai institusi baru yang berperan dalam penguatan ekonomi nasional.
Respons positif dari pasar keuangan AS diklaim menjadi salah satu pendorong utama perbaikan sentimen pasar. Dampaknya terlihat pada penguatan nilai tukar rupiah dan indeks saham di bursa domestik.
“Pada saat mereka melihat bahwa ternyata apa yang dilakukan, dalam hal ini Danantara dan juga kebijakan-kebijakannya, mampu membalikkan momentum yang sebelumnya membuat mereka ragu terhadap ekonomi Indonesia dan kebijakan kita,” ujar Rosan.
Ia menyampaikan proses pemulihan kepercayaan pasar modal melalui penjelasan langsung memerlukan pembuktian kapasitas dan profesionalisme pengelola lembaga. Para investor global dilaporkan mengajukan berbagai pertanyaan kritis terkait tata kelola dan akuntabilitas Danantara sebelum memutuskan kembali menempatkan modalnya.
“Dan yang paling penting yang kita lihat juga adalah kredibilitas daripada kita menyampaikan dari Danantara ini diterima mereka dengan baik. Memang tanya jawabnya kencang. Tanya jawabnya sangat kencang,” kata Rosan.
Keberhasilan diplomasi investasi tersebut diklaim mengakhiri fase penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terdalam pada awal Juni 2026.























