Harga Emas Antam Stagnan, Selisih Jual-Beli Capai Rp229.000 per Gram

persen

Jakarta – Harga emas batangan yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang (ANTM) atau Logam Mulia terpantau stagnan pada perdagangan Selasa (16/6). Berdasarkan data resmi, harga emas batangan bersertifikat dipatok di level Rp 2.729.000 per gram, angka yang sama dengan harga pada periode sebelumnya.

Bersamaan dengan kondisi tersebut, harga pembelian kembali atau buyback oleh Logam Mulia juga tidak mengalami pergerakan, yakni tetap berada di angka Rp 2.500.000 per gram. Dengan demikian, selisih atau spread antara harga jual dan harga beli kembali ditetapkan sebesar Rp 229.000 per gram.

Struktur harga yang diterapkan oleh Antam membagi dua kategori utama bagi investor. Pertama adalah harga emas yang berlaku saat masyarakat membeli emas dari gerai Logam Mulia. Kedua adalah harga buyback, yakni harga yang diberikan ketika investor menjual kembali emas miliknya kepada pihak Antam. Perbedaan yang cukup lebar antara kedua harga ini mengharuskan calon investor untuk melakukan perhitungan cermat sebelum menempatkan modal.

Investor yang melakukan transaksi pembelian emas pada pagi hari harus membayar sesuai dengan harga jual yang berlaku. Namun, jika dalam waktu singkat investor terpaksa melakukan likuidasi atau menjual kembali emas tersebut, nilai yang diterima akan mengikuti harga buyback yang lebih rendah. Selisih harga sebesar Rp 229.000 per gram tersebut menjadi faktor signifikan yang memengaruhi potensi keuntungan maupun kerugian investasi dalam jangka pendek.

Mengingat tingginya margin antara harga beli dan harga buyback, instrumen emas batangan dinilai lebih relevan untuk strategi investasi jangka panjang. Tujuannya adalah memberikan ruang bagi apresiasi nilai logam mulia agar dapat melampaui biaya spread dan menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya seiring berjalannya waktu.

Analisis historis menunjukkan bahwa durasi kepemilikan menjadi penentu utama profitabilitas. Sebagai ilustrasi, investor yang membeli emas pada 9 Juni 2026 di harga Rp 2.733.000 per gram saat ini masih mencatatkan potensi kerugian sebesar 8,53 persen jika harus menjualnya kembali di harga buyback Rp 2.500.000. Kondisi serupa terjadi pada pembelian di 16 Maret 2026, di mana investor menghadapi potensi kerugian hingga 16,44 persen karena harga beli saat itu mencapai Rp 2.992.000 per gram.

Sebaliknya, investor yang telah menyimpan aset emas dalam jangka waktu lebih lama menunjukkan hasil yang berbeda. Pembelian emas pada 16 September 2024 di harga Rp 1.443.000 per gram kini mencatatkan potensi keuntungan sebesar 73,25 persen. Begitu pula dengan pembelian pada 16 Desember 2024 di harga Rp 1.517.000 per gram yang memberikan potensi keuntungan sebesar 64,80 persen. Data ini menegaskan bahwa semakin lama emas disimpan, semakin besar peluang untuk mengompensasi spread harga dan memperoleh imbal hasil yang positif.

Rekomendasi