Dirut PLN Percepat Pasokan Batu Bara demi Atasi Pemadaman Listrik

persen

Jakarta – Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas terjadinya pemadaman listrik secara bergilir di wilayah Pulau Jawa. Langkah ini diambil sebagai respons atas gangguan pasokan energi yang sempat mengganggu aktivitas publik dan sebagai tindak lanjut atas arahan pemerintah pusat terkait stabilitas sistem kelistrikan nasional.

Sebagai langkah mitigasi, PLN kini memprioritaskan percepatan kontrak pengadaan batu bara kalori menengah (medium coal) untuk memastikan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kembali normal. Percepatan ini dilakukan setelah adanya instruksi langsung dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang menuntut perbaikan segera dalam manajemen pasokan bahan bakar pembangkit.

Darmawan menjelaskan bahwa proses penandatanganan kontrak dengan para pemasok batu bara yang telah mendapatkan penugasan pemerintah kini sedang dipacu. Upaya ini dilakukan untuk menjamin ketersediaan stok energi primer agar tidak terjadi lagi kelangkaan di masa mendatang. Koordinasi intensif dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) terus dijalankan guna memastikan hambatan administratif dalam pengadaan batu bara dapat dieliminasi secepat mungkin.

Saat ini, distribusi batu bara ke sejumlah PLTU strategis di Pulau Jawa dilaporkan telah kembali berjalan. Di wilayah Jawa Bagian Barat, pasokan energi disalurkan ke PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Lontar, PLTU Labuhan, PLTU Suralaya unit 1 hingga 8, PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9 dan 10, serta PLTU Indramayu. Sementara untuk wilayah Jawa Bagian Timur, pengiriman batu bara difokuskan pada PLTU Paiton 1 dan 2, PLTU Paiton 9, PLTU Rembang, PLTU Pacitan, dan PLTU Tanjung Awar-awar.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah memberikan ultimatum keras kepada manajemen PLN terkait rentetan pemadaman listrik yang merugikan pelanggan. Pemerintah telah melakukan serangkaian rapat evaluasi dan kontrol ketat dalam beberapa hari terakhir untuk memastikan PLN mampu menjalankan kewajibannya dalam menyediakan listrik yang andal. Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menoleransi kegagalan operasional yang berulang dan menuntut implementasi teknis yang konkret dari pihak PLN di lapangan.

Pihak PLN berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyaluran listrik mereka. Langkah perbaikan ini tidak hanya mencakup pemenuhan kebutuhan batu bara, namun juga penguatan koordinasi antar-instansi agar kendala teknis serupa tidak terulang. Fokus utama PLN saat ini adalah memastikan seluruh pembangkit beroperasi pada kapasitas optimal untuk memenuhi beban puncak di seluruh wilayah operasional Pulau Jawa.

Rekomendasi