Jakarta – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melakukan langkah strategis melalui restrukturisasi kepemilikan dan integrasi operasional bisnis di sejumlah negara. Aksi korporasi yang melibatkan anak usaha di Singapura, Alfamart Retail Asia Pte. Ltd. (ARA), tersebut bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan serta meningkatkan efisiensi manajemen bisnis internasional perseroan.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Rabu (17/6/2026), restrukturisasi ini mencakup tiga rangkaian transaksi utama yang melibatkan Glory Worldwide Investment Pte. Ltd. (GWI), sebuah perusahaan investasi berbasis di Singapura yang memiliki kesamaan pengurus dengan AMRT. Seluruh transaksi ini telah dieksekusi pada 15 Juni 2026.
Langkah pertama dimulai dengan perjanjian peningkatan modal atau Subscription Agreement pada ARA. Dalam kesepakatan ini, ARA menerbitkan 49,75 juta saham baru dengan nilai total mencapai US$ 40,63 juta atau setara dengan Rp 680 miliar. Seluruh saham baru tersebut diserap oleh GWI, yang menyebabkan komposisi kepemilikan saham di ARA mengalami perubahan signifikan. Porsi kepemilikan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk di ARA terdilusi dari 100 persen menjadi 49 persen, sementara GWI resmi menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi 51 persen.
Dana yang diperoleh dari peningkatan modal tersebut digunakan untuk membiayai langkah kedua, yaitu akuisisi saham Alfamart Trading Philippines, Inc. (ATP). Melalui Share Purchase Agreement, ARA membeli 10 persen saham ATP milik GWI senilai US$ 10,53 juta. Dengan transaksi ini, kepemilikan ARA di entitas ritel Alfamart Filipina meningkat dari 35 persen menjadi 45 persen.
Langkah ketiga melibatkan pengambilan alih saham AMRT di entitas bisnis Bangladesh. ARA mengakuisisi 70,02 persen saham Alfamart Bangladesh Limited (ATB) dari GWI dengan nilai transaksi sebesar 220,75 juta Taka Bangladesh. Melalui akuisisi ini, ARA kini memegang kendali mayoritas atas operasional bisnis Alfamart di Bangladesh.
Corporate Secretary PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Tomin Widian, menjelaskan bahwa restrukturisasi ini dirancang untuk mendukung ekspansi internasional secara lebih mandiri. Dengan kehadiran GWI sebagai mitra strategis, perseroan memiliki fleksibilitas pendanaan yang lebih baik tanpa harus bergantung penuh pada arus kas dari entitas induk di Indonesia. Selain itu, integrasi operasional di bawah payung ARA diharapkan mampu menciptakan koordinasi yang lebih efektif bagi pengembangan pasar di Filipina dan Bangladesh.
Di sisi lain, langkah ini memungkinkan AMRT untuk tetap fokus menggarap pasar minimarket domestik yang menjadi tumpuan bisnis utama perusahaan. Meskipun kepemilikan langsung di ARA berkurang, AMRT tetap memiliki pengaruh signifikan terhadap bisnis internasional tersebut.
Berdasarkan laporan penilai independen, total nilai transaksi ini berada di bawah ambang batas 20 persen dari total ekuitas AMRT per akhir 2025 yang tercatat sebesar Rp 19,38 triliun. Dengan demikian, perseroan tidak diwajibkan untuk meminta persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai dengan regulasi POJK Nomor 17 Tahun 2020. Pasar merespons positif aksi korporasi tersebut, dengan saham AMRT yang ditutup menguat 2,89 persen ke level Rp 1.425 per saham pada perdagangan Rabu (17/6/2026).























