Jakarta – PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel memproyeksikan kinerja operasional yang solid hingga akhir tahun 2026.
Optimisme ini didorong oleh penyelesaian tiga proyek strategis di Pulau Obi yang difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi operasional.
Direktur Utama Trimegah Bangun Persada, Roy Arman Arfandy, menyatakan bahwa perusahaan tengah memfinalisasi fasilitas pengolahan nikel Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), pabrik pengolahan kapur tohor, serta fasilitas daur ulang limbah tailing.
Proyek RKEF ketiga yang dikerjakan oleh PT Karunia Permai Sentosa (KPS) menjadi pilar utama ekspansi tahun ini.
Fase ketiga dari proyek tersebut kini telah mencapai progres konstruksi 94 persen dan ditargetkan rampung pada semester I 2026.
Fase ini mencakup empat jalur produksi dengan kapasitas mencapai 65.000 ton kandungan nikel per tahun.
Secara keseluruhan, fasilitas RKEF milik KPS di Pulau Obi telah membangun 12 jalur produksi dengan total kapasitas terpasang sebesar 185.000 ton nikel dalam bentuk feronikel per tahun.
“KPS telah menyelesaikan 10 jalur produksi pada 2025 dan dua jalur terakhir telah diselesaikan pada kuartal I atau semester I 2026, sehingga 12 jalur telah terbangun hingga saat ini,” ujar Roy dalam Public Expose NCKL, Selasa (30/6/2026).
Saat ini, seluruh jalur produksi tersebut tengah memasuki tahap peningkatan kapasitas menuju operasional penuh.
Dengan tambahan kapasitas dari proyek MSP dan HJF yang telah beroperasi sebelumnya, NCKL menargetkan total kapasitas produksi dari tiga fasilitas RKEF di Pulau Obi mencapai 305.000 ton nikel per tahun pada akhir 2026.
Selain itu, perusahaan tengah merampungkan pembangunan pabrik kapur tohor yang dikerjakan PT Cipta Kemakmuran Mitra (CKM) untuk mendukung efisiensi operasional High Pressure Acid Leach (HPAL).
Proyek tersebut telah mencapai progres 98 persen dan dijadwalkan beroperasi penuh pada kuartal II 2026 dengan estimasi investasi senilai US$ 70 juta.
NCKL juga mulai merambah inisiatif keberlanjutan melalui proyek ekstraksi besi dari tailing yang saat ini sedang dalam tahap uji coba, dengan konstruksi skala penuh dijadwalkan pada semester II 2026.
Dari sisi finansial, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai memberikan sentimen positif bagi perusahaan.
Direktur NCKL, Suparsin Darmo Liwan, menjelaskan bahwa seluruh pendapatan dari pengolahan nikel berbasis ekspor menggunakan mata uang dolar AS.
“Harga patokan mineral mengikuti harga LME dalam dolar AS yang kemudian dirupiahkan. Jadi, kenaikan dolar AS justru menguntungkan perusahaan,” ungkap Suparsin.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencatat bahwa NCKL mencatatkan pendapatan sebesar Rp 29,63 triliun sepanjang 2025 dan Rp 6,81 triliun pada kuartal I 2026.
Meskipun demikian, saham NCKL tercatat mengalami koreksi sebesar 30,67 persen sejak awal tahun 2026 akibat tekanan biaya operasional dan fluktuasi harga nikel global.
Untuk menahan tekanan harga saham, perusahaan berencana membagikan dividen sebesar Rp 2,7 triliun atau setara 30 persen dari laba bersih 2025, serta mengusulkan rencana pembelian kembali saham senilai Rp 1 triliun.























