Jakarta – Indeks harga saham sektor perbankan dengan kapitalisasi besar atau big banks kompak melemah pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (29/6/2026).
Tekanan jual yang masif dari investor asing menjadi katalis utama di balik koreksi yang dialami saham-saham perbankan jumbo tersebut.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penurunan terdalam sebesar 4,05% ke level Rp 5.925 per saham.
Padahal, pada awal sesi perdagangan, saham BBCA sempat dibuka di level Rp 6.175 per saham sebelum akhirnya tertekan aksi jual.
Secara akumulatif, saham BBCA telah terkoreksi sebesar 4,82% dalam kurun waktu satu pekan terakhir.
Kondisi serupa dialami oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang melemah 1,81% ke level Rp 3.260 per saham.
Saham BBNI sempat dibuka menguat di posisi Rp 3.340, namun gagal mempertahankan momentum tersebut.
Dalam catatan mingguan, saham BBNI telah mencatatkan penurunan signifikan sebesar 6,59%.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga tertekan sebesar 1,25% menjadi Rp 3.940 per saham dengan koreksi mingguan mencapai 6,64%.
Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup turun 1,05% ke level Rp 2.840 per saham.
Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menyatakan bahwa arus keluar dana asing atau net sell menjadi faktor dominan yang menekan pasar domestik.
Investor global saat ini cenderung bersikap defensif dan sangat berhati-hati terhadap aset di Indonesia.
Menurut Andrey, ada beberapa sentimen negatif yang membayangi, mulai dari kekhawatiran kondisi fiskal hingga isu aksesibilitas pasar pasca-kajian MSCI.
“Ya, salah satu faktor utamanya adalah masih berlanjutnya arus keluar dana asing. Investor asing masih cenderung berhati-hati terhadap Indonesia seiring kekhawatiran atas kondisi fiskal, isu aksesibilitas pasar pasca-review MSCI, serta suku bunga domestik yang lebih tinggi,” ujar Andrey kepada media, Senin (29/6).
Selain faktor eksternal, kebijakan moneter dalam negeri turut memberikan tekanan tambahan bagi sektor perbankan.
Kenaikan BI Rate ke level 5,75% dan tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) memperketat kondisi likuiditas.
Situasi ini memicu kekhawatiran pasar akan adanya tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan.
“Faktor-faktor tersebut membebani sentimen sektor perbankan meskipun fundamental industrinya masih relatif solid,” tambahnya.
Andrey menilai tantangan terbesar perbankan saat ini adalah kenaikan biaya dana atau cost of fund.
Namun, ia meyakini tekanan tersebut dapat dimitigasi melalui pertumbuhan kredit dan peningkatan pendapatan berbasis komisi.
Strategi efisiensi operasional serta penguatan porsi dana murah melalui CASA juga menjadi kunci bagi perbankan.
“Tantangan terbesar memang berasal dari kenaikan biaya dana. Namun kami melihat tekanan tersebut dapat diimbangi oleh pertumbuhan kredit, peningkatan fee income, efisiensi operasional, serta pengelolaan biaya dana melalui peningkatan CASA,” jelas Andrey.
RHB Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan karena valuasi yang kini dianggap semakin murah.
Saham-saham seperti BMRI, BBRI, BRIS, dan BBTN menjadi pilihan utama karena prospek pertumbuhan laba yang dinilai masih atraktif.
Sedangkan BBCA tetap menjadi instrumen defensif bagi investor berkat kualitas aset dan likuiditas yang terjaga dengan baik.
Pemulihan harga saham sektor ini ke depan akan sangat bergantung pada stabilisasi arus dana asing dan penguatan nilai tukar rupiah.






















