Jakarta – Perekonomian Indonesia diprediksi menghadapi tantangan berat akibat tekanan inflasi yang diproyeksikan terus meningkat sepanjang paruh kedua tahun 2026.
Meskipun secara akumulasi tahun kalender masih berada dalam rentang sasaran pemerintah, berbagai indikator ekonomi menunjukkan adanya tren kenaikan harga yang perlu diwaspadai secara serius.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan atau year-on-year pada Juni 2026 telah menyentuh angka 3,34 persen.
Angka tersebut menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 1,87 persen.
Secara bulanan, inflasi tercatat mencapai 0,44 persen dengan inflasi tahun kalender hingga Juni 2026 berada pada level 1,79 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa tekanan inflasi utama bersumber dari sektor transportasi serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Komoditas seperti bensin, beras, cabai rawit, tomat, emas perhiasan, serta biaya pendidikan menjadi penyumbang andil terbesar terhadap kenaikan indeks harga konsumen.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa meski angka tahunan telah melewati ambang psikologis 3 persen, pemerintah masih memiliki ruang kendali melalui inflasi tahun kalender.
“Secara tahunan memang sudah lebih dari 3 persen, akan tetapi untuk menganalisis inflasi juga perlu melihat year-to-date, sampai Juni angkanya sekitar 1,79 persen dan jika bicara target inflasi pemerintah, sebenarnya masih berada dalam kisaran target,” ujar Yusuf dalam diskusi media, Kamis (2/7).
Yusuf menekankan bahwa risiko inflasi pada semester II akan dipicu oleh efek lanjutan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax.
Kenaikan harga energi tersebut diyakini akan menciptakan efek putaran kedua atau second round effect yang merembet ke sektor logistik dan harga barang konsumsi lainnya.
Selain faktor BBM, ancaman fenomena cuaca ekstrem El Nino yang diprediksi memuncak pada September hingga Oktober menjadi perhatian utama.
Kondisi cuaca tersebut berisiko mengganggu stabilitas produksi pangan nasional yang secara otomatis akan mendorong kenaikan harga bahan pokok.
Kekhawatiran bertambah dengan adanya tekanan musiman berupa biaya pendidikan yang biasanya meningkat tajam pada bulan Juli seiring dimulainya tahun ajaran baru.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyoroti bahwa inflasi bulanan sebesar 0,44 persen pada Juni tergolong sangat tinggi dibandingkan pola historis yang biasanya hanya berada di kisaran 0,1 persen.
“Pemerintah sebelumnya menyampaikan dampaknya kecil, namun ternyata tidak kecil-kecil amat karena kontribusinya terhadap inflasi cukup signifikan,” tegas Faisal.
Faisal menambahkan bahwa korelasi antara kenaikan harga BBM nonsubsidi dengan harga pangan kini mulai menunjukkan pola yang lebih kuat.
Menipisnya stok beras pasca masa panen raya juga memperburuk kondisi, sehingga ketergantungan pada panen gadu bulan September menjadi sangat krusial.
Jika berbagai tekanan tersebut tidak segera diantisipasi oleh kebijakan yang tepat, Faisal memprediksi inflasi akhir tahun berpotensi melampaui batas atas target yang ditetapkan Bank Indonesia.






















