Jakarta – Proyeksi kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung agresif atau hawkish diperkirakan akan memberikan tekanan berkelanjutan terhadap nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.
Stockbit Sekuritas dalam catatannya menyebutkan bahwa sikap bank sentral AS, The Fed, masih dipengaruhi oleh tingkat inflasi yang hingga saat ini belum mencapai target bank sentral tersebut.
Ketidakpastian arah suku bunga ini semakin menguat setelah data tenaga kerja sektor swasta AS versi ADP menunjukkan pertumbuhan hanya sebesar 98.000 pada Juni 2026.
Angka tersebut tercatat berada di bawah ekspektasi konsensus pasar yang mematok angka di level 113.000 tenaga kerja.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengakui bahwa meskipun risiko inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda melandai, realitanya inflasi AS masih berada di angka 4,2 persen secara year on year pada Mei 2026.
Capaian inflasi tersebut masih terpaut cukup jauh dari target ideal yang ditetapkan The Fed di level 2 persen.
Warsh sendiri memilih untuk tidak memberikan sinyal spesifik mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.
Ia berencana menghapus forward guidance guna memberikan ruang bagi pasar keuangan untuk bergerak secara lebih mandiri tanpa intervensi berlebih dari otoritas moneter.
Meski Presiden Donald Trump kerap mendorong penurunan suku bunga, Warsh tetap menekankan pentingnya menjaga independensi The Fed dalam mengambil keputusan.
Langkah ini diambil menyusul pergantian kepemimpinan dari Powell yang dinilai pasar terlalu lambat dalam melakukan pemangkasan suku bunga sebelumnya.
Pasar saat ini masih bereaksi terhadap ekspektasi kebijakan hawkish tersebut dengan mencermati data-data makroekonomi utama.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool per Kamis, 2 Juli 2026, probabilitas kenaikan suku bunga AS hingga akhir tahun 2026 tercatat mencapai 83 persen.
Angka probabilitas tersebut mengalami peningkatan tipis jika dibandingkan dengan data pekan lalu yang berada di level 81 persen.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, pejabat The Fed pada Juni 2026 sempat memberi sinyal kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen hingga akhir tahun ini.
Investor kini diminta untuk terus memantau rilis data non-farm payroll dan tingkat pengangguran AS yang akan menjadi indikator kunci kebijakan.
Selain itu, rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pada 14 Juli 2026 diprediksi akan menjadi penentu sentimen pasar global.
“Rilis data-data makroekonomi tersebut memiliki implikasi terhadap arah kebijakan suku bunga AS, yang pada ujungnya memengaruhi prospek nilai tukar rupiah,” tulis Stockbit Sekuritas dalam risetnya, Kamis, 2 Juli 2026.
Dari sisi domestik, para pelaku pasar juga diingatkan untuk mencermati dinamika ekonomi nasional yang berkaitan dengan peringkat kredit.
“Dari dalam negeri, review sovereign credit rating Indonesia oleh S&P juga kemungkinan akan dirilis pada periode Juli 2026, sehingga turut perlu dicermati oleh investor,” tambah pihak Stockbit Sekuritas.
Sementara itu, pasar modal Indonesia merespons dinamika global dengan catatan positif pada perdagangan pagi hari, Kamis, 3 Juli 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melonjak 2 persen ke level 5.863.
Beberapa saham yang masuk dalam jajaran top gainers dari indeks LQ45 di antaranya adalah AMMN, ANTM, dan HRTA.
Stabilitas ekonomi domestik dan arah kebijakan moneter global diprediksi akan terus menjadi fokus utama pergerakan pasar di sisa bulan Juli 2026.






















