New York – Bursa saham Wall Street menunjukkan stabilitas pada perdagangan Jumat (10/7/2026) di tengah antusiasme pelaku pasar menanti debut perdana saham produsen cip asal Korea Selatan, SK Hynix, di bursa Nasdaq.
Sentimen pasar kini bergeser dari kekhawatiran atas ketegangan geopolitik di Timur Tengah menuju optimisme pada prospek sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Data menunjukkan indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan sebesar 35,60 poin atau 0,07% ke level 52.523,01 hingga pukul 09.50 waktu setempat.
Indeks S&P 500 turut menguat 11,18 poin atau 0,15% ke posisi 7.554,82.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite menanjak 13,40 poin atau 0,05% berada di level 26.220,29.
Pencatatan saham SK Hynix di Amerika Serikat menjadi pusat perhatian karena diproyeksikan sebagai salah satu aksi korporasi terbesar tahun ini setelah IPO SpaceX.
Perusahaan ini sukses mengumpulkan dana sekitar US$ 26,5 miliar melalui penjualan American Depositary Receipts (ADR) dengan harga US$ 149 per lembar saham pada Kamis (9/7/2026).
ADR SK Hynix diprediksi akan dibuka pada harga US$ 176,01, atau melonjak sekitar 18% dari harga penawaran awal.
Direktur Riset XTB, Kathleen Brooks, menyatakan bahwa tingginya minat investor membuat debut saham tersebut kemungkinan besar tidak akan memicu gejolak negatif di pasar.
“Jika perdagangan saham berjalan positif, hal itu berpotensi mengangkat kinerja seluruh sektor semikonduktor menjelang akhir pekan,” ujar Kathleen dikutip dari Reuters, Jumat (10/7/2026).
Sektor semikonduktor selama ini menjadi motor utama reli AI, meskipun aksi ambil untung sempat memicu volatilitas harga.
Saham Micron Technology terpantau terkoreksi 1,6%, sementara indeks Philadelphia SE Semiconductor melemah 0,5% di tengah pergerakan yang fluktuatif.
Di sisi lain, saham Meta Platforms mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 6,1% yang turut mendongkrak sektor layanan komunikasi sebesar 0,9%.
Secara umum, sebanyak delapan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 bergerak di zona hijau pada sesi perdagangan tersebut.
Pelaku pasar juga masih memantau perkembangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Teluk yang sempat memicu kecemasan akan lonjakan inflasi.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, berpendapat bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan menyebabkan kenaikan harga energi yang berkelanjutan hingga akhir tahun.
Pandangan tersebut memberikan sedikit ketenangan bagi investor di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.
Pasar kini menanti rilis data inflasi Amerika Serikat periode Juni yang dijadwalkan terbit pekan depan.
Data tersebut akan menjadi acuan penting bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depannya.
Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga penutupan tahun 2026.
Sementara itu, musim laporan keuangan emiten diprediksi akan semakin ramai pada pekan depan.
Laba emiten S&P 500 diproyeksikan tumbuh 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan sektor teknologi sebagai penopang utama.
Di Bursa Efek New York, jumlah saham yang menguat tercatat mengungguli saham yang melemah dengan rasio 1,79 banding 1.
























