Jakarta – Industri kemasan nasional diprediksi tetap mampu mempertahankan tren pertumbuhan positif pada 2026 di kisaran 5% hingga 6% secara tahunan.
Proyeksi ini muncul meskipun sektor tersebut menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian permintaan pasar.
Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi katalisator utama bagi ketahanan industri.
Sektor makanan dan minuman menjadi pilar pendukung utama berkat kontribusi konsumsi domestik yang mencapai lebih dari 50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Peluang konsumsi rumah tangga masih kuat. Selain menyumbang lebih dari 50% PDB, pertumbuhan e-commerce dan program pangan nasional yang mencapai sekitar 190 juta porsi makanan per hari ikut mendorong permintaan kemasan makanan dan minuman,” ujar Henky dikutip dari Indonesian Packaging Federation, Jumat (10/7).
Optimisme tersebut tetap dibayangi oleh tantangan eksternal berupa fluktuasi harga bahan baku.
Industri sempat mengalami guncangan signifikan akibat krisis pasokan nafta global yang memicu lonjakan harga biji plastik hingga 200%.
Meskipun harga komoditas tersebut mulai melandai, pelaku industri masih terbebani oleh tingginya biaya input produksi yang belum kembali ke titik normal.
Kondisi tersebut diperparah dengan pelemahan daya beli masyarakat yang membuat permintaan pasar menjadi sangat selektif.
Di luar faktor ekonomi, pelaku industri juga dihadapkan pada kewajiban kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang semakin ketat.
Kebijakan mengenai Extended Producer Responsibility (EPR) dan pembatasan plastik sekali pakai memaksa perusahaan melakukan investasi teknologi tambahan.
“Regulasi baru terkait EPR dan pengurangan plastik sekali pakai menuntut adaptasi yang tidak mudah bagi pelaku industri,” kata Henky.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, mayoritas pelaku usaha kini menerapkan strategi konservatif.
Perusahaan cenderung menunda rencana ekspansi kapasitas produksi demi menjaga stabilitas arus kas.
Alih-alih menambah aset fisik, pelaku usaha kini memprioritaskan optimalisasi efisiensi operasional dan penyesuaian volume produksi.
“Kecenderungan saat ini, pelaku usaha lebih memilih menahan ekspansi kapasitas dan fokus pada efisiensi biaya serta penyesuaian volume produksi,” jelasnya.
Strategi ini dinilai sebagai langkah paling rasional untuk memitigasi risiko ketidakpastian harga bahan baku dan beban biaya kepatuhan regulasi.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut, IPF mengharapkan intervensi kebijakan pemerintah yang lebih konkret.
Stabilisasi harga energi dan bahan baku menjadi prioritas utama agar biaya produksi tetap kompetitif di pasar domestik.
Selain itu, industri sangat membutuhkan insentif investasi khusus untuk pengembangan teknologi daur ulang dan kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Konsistensi pemerintah dalam mengawal implementasi regulasi EPR juga menjadi kunci bagi kepastian rencana bisnis jangka panjang.
Dukungan terhadap infrastruktur logistik dinilai mendesak untuk memperkuat rantai pasok nasional.
“Selain itu, dukungan infrastruktur logistik juga diperlukan untuk memperkuat rantai pasok domestik dan meningkatkan daya saing industri kemasan nasional,” pungkas Henky.























