Harga Minyak Mentah Indonesia Anjlok 21% Sepanjang Juni 2026

Rayhan Akhari

Harga Minyak Mentah Indonesia Anjlok 21% Sepanjang Juni 2026

Jakarta – Pemerintah resmi menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) untuk periode Juni 2026 sebesar US$ 83,45 per barel.

Angka tersebut mencatatkan penurunan tajam sebesar 21,69 persen jika dibandingkan dengan posisi harga pada Mei 2026 yang sempat menyentuh US$ 106,56 per barel.

Kebijakan mengenai harga patokan ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama dalam perubahan harga tersebut.

“Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar US$ 22,50 per barel dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level US$ 106,56 per barel,” ujar Laode dalam siaran pers, Sabtu (18/7/2026).

Menurut Laode, penurunan harga dipicu oleh tensi konflik yang mereda antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sepanjang bulan Juni.

Faktor pendukung lainnya adalah tercapainya kesepakatan gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap bagi jalur perdagangan.

Normalisasi jalur distribusi minyak dunia ini berhasil meningkatkan kelancaran pasokan, yang kemudian memberikan tekanan terhadap harga di pasar internasional.

Selain faktor geopolitik, tekanan harga juga berasal dari fundamental pasar terkait proyeksi permintaan dan penawaran global.

Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi pertumbuhan permintaan minyak dunia hanya berada di angka 1,1 juta barel per hari.

Di saat yang bersamaan, OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak mentah mereka.

Rusia secara spesifik berencana menambah pasokan guna memenuhi target produksi yang telah ditetapkan oleh OPEC+ untuk tahun 2026.

Kombinasi antara lonjakan pasokan dan perlambatan pertumbuhan permintaan ini menjadi beban bagi harga komoditas energi tersebut.

Data menunjukkan penurunan harga juga terjadi pada berbagai jenis minyak mentah global lainnya selama periode Juni 2026.

Brent di ICE terpantau turun US$ 18,73 menjadi US$ 84,98 per barel, sementara WTI di Nymex turun US$ 16,11 menjadi US$ 82,41 per barel.

Basket OPEC mencatat penurunan paling dalam sebesar US$ 23,52, menjatuhkan harga dari US$ 114,55 menjadi US$ 91,03 per barel.

Memasuki Juli 2026, pemerintah memproyeksikan ICP akan bergerak di kisaran US$ 67 hingga US$ 71 per barel.

Namun, Laode menegaskan bahwa realisasi harga akan sangat bergantung pada fluktuasi pasar dan situasi keamanan global ke depan.

Risiko eskalasi serangan baru yang berpotensi mengganggu produksi minyak masih menjadi perhatian utama pemerintah saat ini.

Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pasar guna menjaga kestabilan harga dan ketahanan energi nasional.

Formula ICP akan tetap dijalankan secara transparan untuk mencerminkan dinamika pasar internasional yang akuntabel bagi keuangan negara.

Seluruh elemen pasokan, permintaan, dan kondisi geopolitik akan menjadi acuan utama dalam menentukan arah harga minyak mentah Indonesia ke depannya.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar