Menakar Prospek Saham Emiten Logistik di Tengah Penutupan Selat Hormuz

persen

Menakar Prospek Saham Emiten Logistik di Tengah Penutupan Selat Hormuz

Jakarta – Sektor transportasi dan logistik di Bursa Efek Indonesia kini tengah menghadapi tantangan berat akibat memanasnya geopolitik global serta fluktuasi nilai tukar rupiah.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz sejak 12 Juli 2026 menjadi katalis utama bagi tekanan biaya operasional emiten.

Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi distribusi minyak dan gas dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut memicu lonjakan harga komoditas energi global.

Data Bursa Efek Indonesia per Selasa (21/7/2026) menunjukkan bahwa indeks IDX Transportation & Logistic (IDXTRANS) telah terkoreksi sebesar 14,16% secara year to date (YTD).

Meskipun performa tersebut masih lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 27,93% YTD, para pelaku pasar tetap diminta bersikap waspada.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menyatakan bahwa emiten pelayaran dengan rute internasional seperti PT Samudra Indonesia Tbk (SMDR) dan PT Temas Tbk (TMAS) menjadi pihak yang paling terdampak langsung.

“Selain itu, pengalihan rute pelayaran memperpanjang waktu tempuh (lead time), meningkatkan biaya operasional, dan berpotensi mengganggu kelancaran arus logistik global,” ujar David dikutip dari pernyataan resminya, Senin (20/7/2026).

Di sisi lain, sektor penerbangan dinilai berada dalam posisi yang jauh lebih rentan terhadap sentimen negatif saat ini.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menyebutkan bahwa emiten seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menghadapi tekanan ganda.

Kenaikan harga minyak mentah secara otomatis akan mengerek biaya avtur, sementara pelemahan rupiah terhadap dolar AS memperberat beban biaya sewa pesawat serta perawatan.

“Apabila Rupiah ikut melemah dan kenaikan biaya tidak bisa sepenuhnya diteruskan ke harga tiket karena persaingan serta daya beli, margin maskapai akan kembali tertekan,” kata Ester dalam keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).

Beban fundamental emiten penerbangan memang masih menjadi sorotan, mengingat GIAA dan CMPP masih bergelut dengan kerugian pada awal tahun 2026.

Sementara itu, untuk sektor logistik darat, ancaman utama datang dari potensi kenaikan biaya bahan bakar yang sulit dibebankan kepada pelanggan.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyoroti emiten seperti PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG), dan PT SAP Express Tbk (SAPX) sebagai pihak yang perlu mencermati efisiensi biaya.

“Emiten logistik PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG), dan PT SAP Express Tbk (SAPX) yang mana kenaikan bahan bakar akan menjadi kenaikan biaya,” ucap Abdul Azis melalui pernyataan pers, Senin (20/7/2026).

Terlepas dari berbagai tekanan tersebut, prospek sektor ini dinilai masih moderat karena ditopang oleh konsumsi domestik serta aktivitas e-commerce yang stabil.

Para analis sepakat bahwa investor perlu mengutamakan emiten dengan neraca keuangan yang sehat serta memiliki kemampuan pricing power yang kuat dalam menghadapi ketidakpastian pasar hingga akhir tahun 2026.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar