Jakarta – Rupiah terpantau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/7/2026).
Data pasar spot menunjukkan mata uang Garuda melemah sebesar 0,12 persen ke posisi Rp 17.910 per dolar AS pada pukul 12.57 WIB.
Pergerakan ini terjadi tepat di tengah penantian pelaku pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
Kondisi tersebut merupakan koreksi dari performa positif yang dicatatkan rupiah pada perdagangan hari sebelumnya.
Pada Selasa (21/7/2026), nilai tukar rupiah sempat ditutup menguat 0,33 persen menuju level Rp 17.888 per dolar AS.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan rupiah sehari sebelumnya dipicu oleh sikap waspada pasar.
Sentimen pasar juga didukung oleh ekspektasi kebijakan BI yang dinilai tetap berhati-hati serta adanya arus masuk dana asing.
Namun, dinamika pasar saat ini telah bergeser ke arah antisipasi hasil rapat kebijakan moneter.
“Sementara keberlanjutan penguatan rupiah masih akan sangat bergantung pada sinyal kebijakan yang keluar dari RDG hari ini,” tulis Rully dalam risetnya yang dirilis pada Rabu (22/7/2026).
Ia menyoroti bahwa realitas tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama kini menjadi fokus utama.
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun disebut belum sepenuhnya mencerminkan penyesuaian pasar terhadap kondisi terkini.
Rully memandang bahwa kombinasi kebijakan moneter telah bergeser secara tegas ke arah yang lebih ketat.
Bank Indonesia sebelumnya telah menempuh langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin selama periode Mei dan Juni.
Langkah tersebut menjadi respons strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan volatilitas global.
Proyeksi mengenai kebijakan suku bunga ke depan pun kini mengalami perubahan signifikan.
“BI menaikkan suku bunga sebesar 100 bps selama Mei dan Juni dan kami memperkirakan satu langkah lagi ke 6,0% untuk menstabilkan nilai tukar, sebuah pembalikan tajam dari skenario dasar awal tahun kami yang memperkirakan tidak ada pemotongan suku bunga,” papar Rully.
Sikap hati-hati investor terlihat mendominasi pasar keuangan domestik selama sesi perdagangan hari ini.
Ketergantungan terhadap arah kebijakan moneter menjadi katalis utama bagi pergerakan aset-aset berisiko di Indonesia.
Para pelaku pasar kini menanti apakah BI akan kembali menaikkan suku bunga demi menjaga daya tarik aset domestik.
Jika suku bunga kembali dikerek ke level 6,0 persen, hal itu akan menandai perubahan total dari proyeksi awal tahun yang sempat memprediksi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Hingga penutupan sesi nanti, fluktuasi rupiah diprediksi akan terus dipengaruhi oleh sentimen domestik terkait RDG BI.




















