New York – Bursa saham Amerika Serikat mengawali perdagangan Senin (14/9/2026) dengan kinerja tertekan akibat gelombang aksi jual yang menyasar sektor teknologi, khususnya perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) dan produsen cip.
Indeks S&P 500 terpantau melemah 45,5 poin atau 0,59% ke level 7.611,44.
Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga terkoreksi 314,5 poin atau 1,19% ke posisi 26.018,502.
Dow Jones Industrial Average sempat mencoba bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis, namun akhirnya berbalik arah dan mencatat penurunan sebesar 0,26%.
Data perdagangan menunjukkan bahwa tekanan jual yang masif melanda sejumlah raksasa teknologi.
Saham Nvidia mengalami koreksi sebesar 2,5% pada pembukaan pasar, sementara Amazon mencatatkan pelemahan sekitar 1%.
Sektor produsen cip menjadi sasaran aksi jual paling tajam di pasar hari ini.
Intel anjlok 6,5%, AMD merosot 5,5%, dan Marvell Technology turun hingga 7,5%.
Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam dari para petinggi perusahaan AI mengenai risiko keamanan teknologi tersebut.
CEO Anthropic, Dario Amodei, secara terbuka menyerukan perlunya memperlambat pengembangan model AI demi alasan keamanan, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters.
Seruan tersebut mendapatkan dukungan signifikan dari tokoh kunci industri seperti CEO xAI, Elon Musk, dan CEO OpenAI, Sam Altman.
Kondisi pasar saat ini mencerminkan aksi ambil untung setelah reli panjang yang terjadi pada saham semikonduktor selama beberapa tahun terakhir.
Meski terjadi koreksi, sebagian analis melihat fenomena ini belum tentu mengubah tren jangka panjang pasar modal.
“Ini kemungkinan lebih merupakan gangguan sementara bagi saham AI ketimbang menjadi pembuka mata bagi investor,” ujar Dennis Dick, pendiri sekaligus analis struktur pasar di Triple D Trading.
Ketidakpastian semakin diperburuk dengan pengunduran diri peneliti Anthropic, Jacob Coxon, yang menyoroti potensi risiko besar di balik pengembangan AI.
Namun, tidak semua pelaku pasar menanggapi peringatan tersebut dengan kecemasan berlebih.
Investor Michael Burry memberikan perspektif berbeda dengan menyatakan bahwa pernyataan dari perusahaan besar bisa jadi merupakan upaya untuk membatasi ruang gerak kompetitor kecil.
Pandangan skeptis juga datang dari Chief Economic Strategist Annex Wealth Management, Brian Jacobsen.
“Argumen terkuat untuk berhati-hati adalah argumen yang didasarkan pada bukti, bukan ketakutan,” ujar Jacobsen dikutip dari Reuters.
Selain isu AI, investor kini tengah mengalihkan fokus pada kebijakan moneter Federal Reserve yang akan diumumkan dalam pekan ini.
Pasar mencatat adanya peluang kenaikan suku bunga sebesar 89% berdasarkan data CME FedWatch.
Tekanan inflasi juga kembali membayangi pasar setelah lonjakan harga minyak mentah.
Harga minyak Brent melonjak lebih dari 3% menjadi US$ 108,01 per barel, sementara WTI naik ke level US$ 103,01 per barel.
Kenaikan harga energi ke level tertinggi sejak Mei ini menambah kekhawatiran baru mengenai inflasi global yang dapat membebani ekonomi Amerika Serikat lebih lanjut.






















