Jakarta – Ketegangan geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak mentah dunia hingga perdagangan Rabu (16/9/2026).
Kekhawatiran pasar mengenai terhambatnya jalur distribusi energi global menjadi sentimen utama yang menjaga harga komoditas ini tetap berada di level tinggi.
Data terkini dari Bloomberg menunjukkan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bertengger di posisi US$101,68 per barel, mencatatkan kenaikan harian sebesar 0,29 persen.
Gangguan pada jalur logistik maritim strategis, terutama di Selat Hormuz dan Laut Merah, dinilai menjadi faktor penekan utama bagi stabilitas pasokan minyak dunia.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa intensitas konflik yang meningkat di wilayah tersebut telah mengurangi frekuensi lalu lintas kapal tanker secara signifikan.
“Kita lihat dari Hormuz, yang biasanya kapal yang lewat itu tujuh, sekarang tinggal lima. Kemudian di Laut Merah juga ketegangannya semakin kuat,” ungkap Ibrahim sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Selasa (15/9/2026).
Situasi ini memicu kekhawatiran baru terkait potensi lonjakan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi global.
Dinamika harga energi yang tidak stabil ini turut mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Ibrahim menjelaskan bahwa tingginya harga minyak dapat mendorong The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Kebijakan suku bunga tinggi tersebut secara tidak langsung memberikan tekanan pada aset investasi lain seperti emas, karena investor cenderung beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Namun, prospek pasar minyak mentah diprediksi akan mengalami perubahan drastis apabila eskalasi konflik di Timur Tengah mulai mereda.
Normalisasi jalur distribusi akan menjadi katalis utama bagi pemulihan pasokan yang berpotensi memicu kondisi kelebihan suplai di pasar internasional.
“Kalau sudah terjadi perdamaian, minyak ini bisa turun lebih cepat karena terjadi oversupply,” tegas Ibrahim.
Proyeksi jangka menengah menunjukkan bahwa harga minyak mentah memiliki ruang koreksi yang cukup dalam jika stabilitas kawasan kembali tercapai.
Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah berpotensi merosot ke kisaran US$60 hingga US$65 per barel pada tahun 2027 mendatang.
Hingga saat ini, pergerakan harga minyak mentah masih akan sangat bergantung pada perkembangan situasi keamanan di jalur-jalur krusial Timur Tengah.
Pelaku pasar terus mencermati setiap eskalasi yang terjadi sebagai indikator utama dalam menentukan posisi investasi di sektor energi global.
Ketidakpastian geopolitik dipastikan tetap menjadi variabel penentu utama dalam volatilitas harga minyak mentah hingga akhir tahun ini.



















