Harga Emas Berpotensi Tetap Menguat Meski Yield Treasury Tembus 5%

Kholida Rahman

Harga Emas Berpotensi Tetap Menguat Meski Yield Treasury Tembus 5%

Jakarta – Harga emas dunia saat ini berada dalam tekanan pasar yang signifikan menyusul lonjakan imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun yang berhasil menembus level psikologis 5 persen.

Fenomena ini memicu pergeseran preferensi investor global yang mulai beralih dari aset lindung nilai menuju instrumen pendapatan tetap.

Data dari Trading Economics pada Rabu (16/9/2026) menunjukkan harga emas spot berada di posisi US$ 4.286 per ons troi atau mengalami koreksi harian sebesar 0,29 persen.

Tren pelemahan ini telah berlangsung selama sepekan terakhir dengan akumulasi penurunan mencapai 1,49 persen, sementara dalam periode satu bulan, emas mencatatkan pelemahan sebesar 2,83 persen.

Di pasar domestik Indonesia, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terpantau masih bertahan di level yang cukup tinggi di tengah dinamika global tersebut.

Berdasarkan informasi dari laman Logam Mulia, harga emas Antam untuk pecahan 1 gram saat ini dipatok di angka Rp 2.592.000, atau mencapai Rp 2.598.480 setelah memperhitungkan pajak penghasilan sebesar 0,25 persen.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa kenaikan yield US Treasury secara langsung meningkatkan daya tarik obligasi Amerika Serikat dibandingkan emas.

“Kita lihat bahwa Treasury 10 tahun sudah tembus di 5%, ini pun juga kemungkinan besar orang akan lari ke obligasi,” ujar Ibrahim sebagaimana dikutip dari pernyataan tertulisnya pada Selasa (15/9/2026).

Peningkatan imbal hasil obligasi AS secara otomatis menaikkan biaya peluang bagi para pemegang emas.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga atau dividen, emas menjadi kurang kompetitif dibandingkan obligasi pemerintah saat suku bunga berada dalam tren kenaikan.

Namun, di balik tekanan jangka pendek tersebut, prospek emas hingga penutupan tahun 2026 dinilai masih memiliki potensi untuk menguat kembali.

Ibrahim menyoroti bahwa faktor ketidakpastian geopolitik global, khususnya konflik yang masih membara di Timur Tengah dan gangguan pada rantai pasok minyak dunia, menjadi katalis utama yang menopang permintaan emas.

Kenaikan harga minyak mentah dunia juga dipandang sebagai variabel krusial karena berpotensi memicu lonjakan inflasi yang akan memengaruhi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Jika inflasi kembali melonjak, terdapat risiko The Fed akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Sebaliknya, jika otoritas moneter AS memilih untuk menahan suku bunga di level saat ini, ruang gerak bagi kenaikan harga emas diprediksi akan terbuka lebar.

Ibrahim menyatakan optimisme bahwa harga emas dunia masih memiliki peluang untuk menembus level US$ 5.000 per ons troi menjelang akhir tahun 2026.

“Saya masih optimis sampai akhir tahun ini harga emas dunia itu masih akan naik,” tegas Ibrahim.

Ia menambahkan bahwa jika skenario penguatan harga emas global tersebut dibarengi dengan tren pelemahan nilai tukar rupiah, maka harga emas Antam di dalam negeri berpotensi kembali menyentuh level Rp 3 juta per gram.

“Kalau seandainya rupiah terus melemah, kemudian harga emas dunia bergerak sampai level US$ 5.000, sangat wajar angka Rp 3 juta itu akan tercapai kembali,” tambahnya.

Secara keseluruhan, pasar emas saat ini berada dalam fase transisi yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal AS dan stabilitas geopolitik internasional.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar