Laba TAPG Semester I Lampaui Ekspektasi, Indo Premier Soroti Faktor Nonfundamental

Ikhwan Setiawan

Laba TAPG Semester I Lampaui Ekspektasi, Indo Premier Soroti Faktor Nonfundamental

Jakarta – Kinerja keuangan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) sepanjang semester I-2026 mencatatkan angka impresif yang melampaui ekspektasi pasar.

Laba bersih inti atau core net profit perusahaan tercatat mencapai Rp 2,1 triliun hingga Juni 2026.

Realisasi laba tersebut tumbuh 22% secara tahunan (year-on-year).

Angka ini setara dengan 44% dari proyeksi tahunan Indo Premier Sekuritas dan 51% dari konsensus pasar secara keseluruhan.

Pencapaian ini melampaui rata-rata historis dalam tiga tahun terakhir yang biasanya berada di kisaran 38%.

Namun, analis Indo Premier Sekuritas, Halima, memberikan catatan kritis atas hasil tersebut pada Kamis (30/7/2026).

“Menurut kami hasil ini masih sejalan dengan estimasi kami, meskipun berada di atas konsensus,” ujarnya dikutip dari laporan riset Indo Premier Sekuritas.

Ia menilai lonjakan kinerja tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknis pencatatan waktu.

“Kinerja yang tampak melampaui ekspektasi terutama didorong oleh pengakuan penjualan yang terjadi lebih cepat pada kuartal II 2026,” tambah Halima.

Menurutnya, kondisi ini lebih mencerminkan perbedaan waktu pencatatan dibandingkan peningkatan profitabilitas yang mendasar.

Secara rinci, pendapatan perusahaan pada kuartal II 2026 mencapai Rp 3,4 triliun.

Pencapaian kuartalan tersebut naik 35% dibandingkan periode sebelumnya.

Secara akumulatif, total pendapatan semester I 2026 mencapai Rp 5,9 triliun atau naik 6% secara tahunan.

Dari sisi operasional, laba bersih inti pada kuartal II 2026 melonjak hingga 92% menjadi Rp 1,4 triliun.

EBITDA perusahaan pada periode yang sama tercatat sebesar Rp 1,5 triliun atau naik 81% secara kuartalan.

Kontribusi dari perusahaan patungan juga memberikan sokongan sebesar Rp 533 miliar sepanjang semester I 2026.

Posisi neraca keuangan TAPG pun dinilai tetap solid meski terdapat beban denda one-off terkait lahan kehutanan senilai Rp 80 miliar.

Hingga akhir Juni 2026, TAPG mencatatkan posisi kas bersih sebesar Rp 628 miliar.

Rasio kas bersih terhadap ekuitas perusahaan berada di level 0,05 kali.

Volume penjualan sawit tercatat mencapai 399.000 ton pada semester I 2026.

Angka tersebut telah mencapai 103% dari proyeksi yang ditetapkan Indo Premier Sekuritas.

Halima menegaskan bahwa kenaikan margin tunai yang mencapai Rp 6,9 juta per ton pada kuartal II juga bersifat sementara.

“Kami tetap menilai hasil ini sesuai ekspektasi karena kenaikan margin terutama didorong oleh biaya persediaan yang lebih positif,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa biaya persediaan diperkirakan akan kembali normal di masa mendatang.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Indo Premier Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham TAPG.

Target harga saham ditetapkan pada level Rp 2.100 per lembar.

Pada Kamis (30/7/2026) pukul 10.44 WIB, saham TAPG terpantau menguat 3,14% ke posisi Rp 1.805 per lembar.

Prospek kinerja semester II 2026 diprediksi akan semakin kuat.

Hal ini didorong oleh potensi kenaikan harga crude palm oil (CPO) akibat dampak fenomena El Niño.

Selain itu, implementasi program biodiesel B50 dan perbaikan operasional musiman diharapkan menjadi katalis positif bagi perusahaan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar