New York – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan Kamis (30/7/2026).
Sentimen pasar terdorong oleh laporan keuangan Microsoft yang melampaui ekspektasi analis, sehingga mampu meredam kecemasan investor terkait besarnya biaya investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Berdasarkan laporan Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 520,1 poin atau 1,01% ke level 52.114,27.
Indeks S&P 500 juga turut menguat sebesar 74,3 poin atau 1,02% menjadi 7.390,45.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite melonjak 409,1 poin atau 1,67% ke posisi 24.852,05.
Saham Microsoft menjadi motor penggerak utama setelah melonjak sekitar 9% pada sesi premarket.
Lonjakan ini terjadi karena perusahaan memberikan proyeksi pendapatan kuartal berjalan serta pertumbuhan bisnis komputasi awan yang melampaui estimasi pasar.
Selain itu, Microsoft juga memberikan sinyal positif terkait efisiensi belanja modal yang lebih rendah dari perkiraan Wall Street.
Optimisme ini memberikan napas lega bagi investor setelah pekan sebelumnya sempat terjadi aksi jual masif pada saham-saham teknologi akibat laporan arus kas negatif dari Alphabet dan Tesla.
Namun, tidak semua emiten teknologi mencatatkan kinerja positif.
Saham Meta Platforms justru merosot tajam sebesar 9,7% menyusul laporan penurunan arus kas bebas kuartal II sebesar 91%.
Penurunan drastis tersebut mencerminkan tingginya beban investasi AI yang masih membebani neraca keuangan perusahaan.
Di sisi lain, investor kini tengah mencermati data makroekonomi AS terbaru setelah Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 3,50%-3,75%.
Produk domestik bruto (PDB) AS tercatat tumbuh 1,5% secara tahunan pada kuartal II-2026, yang mana angka ini lebih rendah dari ekspektasi ekonom sebesar 2,1%.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut ditengarai akibat pelebaran defisit perdagangan.
Sementara itu, inflasi inti PCE tercatat naik 0,1% secara bulanan, atau lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 0,2%.
“Pasar benar-benar bingung, yang menjelaskan reaksi di pasar obligasi. Namun pagi ini, keputusan menahan suku bunga terlihat masuk akal jika melihat penurunan inflasi PCE,” ujar Chief Executive Officer Grenadilla Advisory, Anna Rathbun.
Di pasar obligasi, imbal hasil atau yield Treasury AS tenor 30 tahun dilaporkan melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir.
Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor yang masih tinggi terhadap prospek kebijakan moneter dan risiko inflasi ke depan.
Data LSEG menunjukkan bahwa pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 64% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang.
Hingga saat ini, sekitar separuh dari perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 telah merilis laporan keuangan kuartal II-2026.
Data LSEG IBES mencatat bahwa 85,2% perusahaan berhasil membukukan laba di atas ekspektasi analis, melampaui rata-rata historis yang biasanya berada di angka 68%.





















