Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mampu keluar dari tren negatif yang membelenggu selama enam hari perdagangan berturut-turut.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (30/7/2026) menunjukkan indeks berhasil ditutup di zona hijau dengan lonjakan signifikan sebesar 1,56 persen.
Kenaikan tersebut setara dengan 95,97 poin, yang membawa IHSG bertengger di level 6.186,36.
Pemulihan indeks kali ini didorong oleh aksi beli masif yang terjadi di seluruh sektor saham yang melantai di bursa domestik.
Sektor barang konsumer nonprimer mencatatkan performa paling impresif dengan kenaikan sebesar 2,25 persen.
Selaras dengan hal tersebut, sektor barang konsumer primer juga mencatatkan penguatan sebesar 2,12 persen.
Sektor energi serta properti dan real estat turut memberikan kontribusi positif dengan masing-masing menguat 1,87 persen.
Sektor perindustrian pun mencatatkan performa solid dengan pertumbuhan sebesar 1,54 persen pada akhir sesi perdagangan.
Sektor transportasi menyusul dengan kenaikan 1,47 persen, sementara sektor barang baku dan keuangan kompak menguat 1,43 persen.
Sektor kesehatan, infrastruktur, dan teknologi juga menutup hari di zona positif dengan kenaikan masing-masing sebesar 1,24 persen, 1,11 persen, dan 0,29 persen.
Aktivitas perdagangan di pasar modal Indonesia terpantau cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 26,48 miliar saham.
Total nilai transaksi yang dibukukan di seluruh pasar mencapai angka Rp 12,45 triliun.
Secara keseluruhan, pasar menunjukkan sentimen bullish dengan 495 saham ditutup menguat.
Di sisi lain, terdapat 158 saham yang mengalami pelemahan dan 136 saham lainnya bergerak stagnan.
Investor asing menunjukkan optimisme pasar dengan mencatatkan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp 262,81 miliar di seluruh pasar.
Namun, di tengah reli kenaikan IHSG, investor asing tetap melakukan aksi jual pada sejumlah saham tertentu.
Berdasarkan data RTI Business, Jumat (31/7/2026), terdapat sepuluh emiten yang menjadi sasaran aksi jual atau net sell terbesar oleh investor asing.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memuncaki daftar dengan nilai net sell mencapai Rp 368,21 miliar.
Selanjutnya, PT MD Entertainment Tbk (FILM) mencatatkan net sell sebesar Rp 84,73 miliar diikuti oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) senilai Rp 79,9 miliar.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga dilego asing dengan nilai Rp 69,38 miliar.
Daftar tersebut dilengkapi oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan net sell Rp 43,59 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 37,01 miliar.
Emiten lainnya yang mencatatkan net sell adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp 35,72 miliar.
Kemudian PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebesar Rp 27,16 miliar, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 22,7 miliar, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) senilai Rp 19,22 miliar.
Meskipun terdapat tekanan jual pada saham-saham tersebut, secara agregat, pasar modal Indonesia mampu menunjukkan resiliensi yang kuat setelah periode koreksi panjang.






















