Jakarta – Sejumlah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan kepemilikan saldo kas dan setara kas yang signifikan hingga penutupan semester I-2026.
Tumpukan likuiditas jumbo tersebut dipandang sebagai strategi defensif emiten dalam merespons ketidakpastian kondisi ekonomi global saat ini.
Meskipun demikian, para analis pasar modal menekankan bahwa besaran kas tersebut tidak secara langsung merepresentasikan kekuatan fundamental perusahaan secara utuh.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tercatat membukukan kas dan setara kas mencapai Rp 23,46 triliun per 30 Juni 2026.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 34,7% dibandingkan posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp 17,42 triliun.
Peningkatan saldo kas GOTO didorong oleh arus kas bersih dari aktivitas operasi yang berhasil mencatatkan nilai positif sebesar Rp 1,72 triliun.
Kinerja ini mengalami perbaikan signifikan dibandingkan semester I-2025 di mana arus kas operasional perusahaan masih mencatat angka negatif Rp 612,05 miliar.
Di sisi lain, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) melaporkan kas dan setara kas sebesar Rp 14,24 triliun per akhir Juni 2026.
Posisi kas BUKA ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 17,16 triliun.
Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat kenaikan jumlah kas sebesar 8,82% menjadi US$ 2,91 juta per 30 Juni 2026.
Pertumbuhan kas TPIA ditopang oleh arus kas operasi yang berbalik positif menjadi US$ 9,61 juta serta kenaikan penerimaan kas dari pelanggan hingga US$ 5,185 miliar.
Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito, menyatakan bahwa perusahaan memang membutuhkan cadangan kas yang lebih besar di tengah iklim bisnis yang penuh tantangan.
Menurutnya, persaingan usaha yang kian tajam menuntut alokasi dana lebih untuk kebutuhan modal kerja, riset, serta pengembangan teknologi.
Namun, Parto menegaskan bahwa besaran angka di neraca tidak menjamin kesehatan fundamental.
“Besarnya arus kas tidak menjamin kondisi fundamental perusahaan yang baik,” ucap Parto, Kamis (30/7/2026).
Ia menambahkan, realisasi hasil ekspansi yang didanai oleh kas tersebut harus mampu memberikan imbal hasil yang lebih tinggi daripada biaya modal.
Senada dengan hal tersebut, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyoroti pentingnya sumber pembentukan kas bagi investor.
Menurut Elandry, investor harus mencermati bagaimana perusahaan mengelola kas untuk menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.
Ia mencontohkan bahwa peningkatan kas pada TPIA lebih didasarkan pada kebutuhan likuiditas untuk ekspansi bisnis.
Sementara itu, GOTO dan BUKA disebut masih banyak mengandalkan sisa dana IPO serta efisiensi operasional sebagai penopang utama likuiditas mereka.
Elandry menegaskan bahwa prioritas utama bagi emiten adalah kemampuan mengubah kas menjadi pertumbuhan laba yang berkelanjutan.
“Yang lebih penting bukan besarnya saldo kas, melainkan kemampuan perusahaan mengubah kas tersebut menjadi pertumbuhan laba, arus kas operasional yang sehat, dan nilai tambah bagi pemegang saham,” ujar Elandry, Jumat (31/7/2026).
Terkait prospek ke depan, Elandry menyebut sentimen penurunan suku bunga dan perbaikan aktivitas ekonomi akan menjadi katalis utama hingga akhir tahun 2026.
Namun, ia mengingatkan pelaku pasar agar tetap mewaspadai risiko geopolitik, volatilitas nilai tukar, serta potensi perlambatan ekonomi global.




















