Jakarta – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026.
Pemulihan laba bersih perusahaan tercatat melesat hingga 313 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$104 juta.
Pencapaian ini didorong oleh kombinasi kenaikan harga komoditas nikel di pasar global serta perbaikan operasional perusahaan.
Berdasarkan data riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, pendapatan perseroan selama enam bulan pertama tahun 2026 tumbuh 27 persen menjadi US$543 juta.
Sejalan dengan peningkatan pendapatan tersebut, EBITDA perusahaan juga melonjak 113 persen secara YoY menjadi US$196 juta.
Tren positif ini turut berlanjut pada kinerja kuartal II-2026 yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 15 persen secara kuartalan (QoQ) menjadi US$290 juta.
Laba bersih pada kuartal kedua bahkan tercatat naik 39 persen QoQ menjadi US$61 juta.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, mengungkapkan bahwa kenaikan harga jual rata-rata nikel matte menjadi katalis utama bagi profitabilitas perusahaan.
Harga jual rata-rata nikel terealisasi naik 21 persen menjadi US$14.491 per ton pada semester pertama tahun ini.
Di sisi operasional, produksi nikel matte sempat mengalami kendala pada awal tahun akibat proyek pembangunan ulang Furnace #3 yang menyebabkan penurunan produksi sebesar 16 persen secara tahunan.
Namun, setelah proyek strategis tersebut rampung, output produksi kembali menunjukkan tren pemulihan dengan kenaikan 19 persen pada kuartal kedua tahun ini.
Manajemen perusahaan juga berhasil menekan biaya operasional secara efektif.
Biaya tunai (cash cost) nikel matte berhasil diturunkan menjadi US$10.005 per ton pada kuartal II-2026, dari posisi sebelumnya di angka US$10.382 per ton.
“Penurunan biaya ini menunjukkan kemampuan manajemen menjaga disiplin operasional di tengah kenaikan harga energi,” ujar Sukarno Alatas sebagaimana dikutip dalam risetnya, Kamis (30/7/2026).
Selain efisiensi produksi, sektor ekspansi bijih saprolit juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Penjualan bijih saprolit di proyek Bahodopi tercatat mencapai 1,96 juta wet metric ton (wmt) sepanjang semester I-2026.
Sementara itu, proyek Pomalaa menunjukkan progres yang sangat pesat dengan lonjakan penjualan menjadi 496.000 wmt pada kuartal kedua dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya 89.000 wmt.
Analis menilai kuartal kedua tahun 2026 merupakan titik balik krusial bagi stabilitas operasional INCO ke depan.
Kinerja perseroan pada semester kedua tahun 2026 diproyeksikan akan semakin kuat seiring dengan peningkatan utilisasi produksi.
Percepatan proyek hilirisasi HPAL serta pengembangan di Bahodopi dan Pomalaa juga menjadi faktor kunci bagi masa depan perusahaan.
“Kombinasi faktor tersebut berpotensi menopang pertumbuhan kinerja dan memperkuat posisi INCO dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik,” tegas Sukarno Alatas dalam laporan risetnya.






















