Jakarta – Kinerja keuangan emiten di bawah naungan Holding BUMN Pertambangan MIND ID menunjukkan tren positif yang signifikan sepanjang semester I-2026.
Pencapaian ini didorong oleh kombinasi kenaikan harga komoditas global serta optimalisasi volume produksi pasca-relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan lonjakan pendapatan dari kontrak pelanggan sebesar 147,26% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 10,41 triliun.
Laba bersih perusahaan turut melesat tajam hingga 804,70% yoy menjadi Rp 2,71 triliun.
Peningkatan tersebut didukung oleh volume penjualan logam timah yang naik 85% menjadi 10.984 metrik ton, serta kenaikan harga jual rata-rata sebesar 52% menjadi US$ 49.794 per metrik ton.
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 27,26% yoy menjadi US$ 543,07 juta.
Laba bersih emiten nikel tersebut melonjak 313,39% yoy menjadi US$ 104,38 juta, meski produksi nikel matte mengalami penurunan 16% yoy menjadi 29.773 ton.
Kenaikan harga realisasi rata-rata nikel matte sebesar 4% secara kuartalan pada kuartal II-2026 menjadi faktor kunci penopang profitabilitas INCO.
Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) hingga saat ini belum mempublikasikan laporan keuangan semester I-2026.
Secara operasional, ANTM mencatat variasi kinerja di mana segmen feronikel tumbuh 31,96% yoy, sementara segmen emas mengalami penurunan volume penjualan sebesar 38,21% yoy.
PTBA melaporkan volume produksi batubara sebesar 19,45 juta ton dengan volume penjualan mencapai 21,10 juta ton pada periode yang sama.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan bahwa kinerja emiten MIND ID terbilang meyakinkan meskipun belum seluruhnya merilis laporan keuangan.
“Pertumbuhan ini disebabkan oleh kombinasi pemulihan harga timah dan nikel global, peningkatan volume seiring relaksasi RKAB, hingga integrasi upstream TINS yang memperbesar operating leverage secara signifikan,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Peluang untuk mempertahankan kinerja positif pada semester II-2026 dinilai terbuka lebar seiring dengan implementasi revisi RKAB yang dimulai sejak Juli 2026.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa revisi RKAB menjadi sentimen krusial bagi emiten yang sebelumnya terhambat oleh kuota produksi.
“Revisi RKAB paling signifikan untuk PTBA dan TINS yang produksinya paling terkendala,” kata Wafi, Jumat (31/7/2026).
Meski demikian, para pelaku pasar diminta tetap mewaspadai risiko kelebihan pasokan nikel global serta potensi fluktuasi harga komoditas akibat dinamika geopolitik.
Para analis memprediksi PTBA, TINS, dan ANTM tetap menjadi pilihan utama bagi investor dengan mempertimbangkan yield dividen serta harga komoditas emas dan timah yang masih berada di level tinggi.























