Jakarta – Bursa saham Korea Selatan mencatatkan rekor kenaikan harian tertinggi dalam sejarah pada perdagangan Jumat (31/7/2026), dengan indeks KOSPI melonjak hingga 14 persen.
Pemulihan dramatis ini terjadi hanya berselang satu bulan setelah pasar mengalami guncangan hebat yang menghapus nilai kapitalisasi pasar sebesar 2,18 triliun dolar AS atau setara Rp39,31 kuadriliun.
Sebelum lonjakan tersebut, indeks KOSPI sempat terperosok dalam hingga 12,6 persen akibat memudarnya minat investor terhadap sektor chip berbasis kecerdasan buatan (AI).
Kondisi bursa yang sangat tidak menentu ini digambarkan sebagai situasi yang cukup ekstrem oleh para pelaku pasar global.
“Pasar saham Korea telah diperdagangkan seolah-olah memiliki gangguan bipolar, berayun dari panik ke euforia hampir dalam semalam,” ujar Jung In Yun dari Fibonacci Asset Management, dikutip CNBC, Minggu (2/8/2026).
Lonjakan tajam tersebut dipicu oleh sentimen positif dari penguatan saham teknologi di Amerika Serikat, terutama setelah laporan keuangan Microsoft, Amazon, dan Meta menunjukkan prospek investasi infrastruktur AI yang masih solid.
Sentimen pasar juga membaik setelah Ketua SK Group, Chey Tae-won, memutuskan untuk melakukan pembelian besar-besaran terhadap saham SK Hynix.
Jung menjelaskan bahwa investor asing menjadi penggerak utama dalam aksi beli kali ini, didukung oleh penutupan posisi short serta rebalansing otomatis pada dana exchange-traded fund (ETF) berleverasi.
Penerapan aturan baru terkait modal deposit tunai bagi investor ETF berleverasi per 31 Juli 2026 juga memaksa banyak pihak melakukan reposisi portofolio secara mendadak.
Meskipun reli ini mencerminkan optimisme, analis memperingatkan bahwa volatilitas tinggi masih menjadi ancaman utama bagi stabilitas pasar modal Korea Selatan.
Rolf Bulk, seorang analis semikonduktor dari Futurum Group, menilai kenaikan ini menunjukkan keyakinan investor bahwa siklus investasi AI masih sangat kuat terlepas dari guncangan jangka pendek yang terjadi.
Namun, ketergantungan pasar pada instrumen keuangan berleverasi tinggi membuat pergerakan harga menjadi sangat rentan terhadap sentimen negatif di masa depan.
Kepala Strategi Ekuitas Asia Societe Generale di Hong Kong, Frank Benzimra, turut menyoroti risiko sistemik dari produk investasi tersebut.
“Sangat sulit untuk mengatakan kapan aksi jual ini akan berakhir, tetapi saat ini, ini jelas bukan perdagangan yang ingin kita masuki,” ujar Benzimra, Minggu (2/8/2026).
Menanggapi gejolak tersebut, pemerintah Korea Selatan kini tengah menyusun langkah-langkah regulasi untuk memperketat pengawasan terhadap produk derivatif.
Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun-cheol, menyampaikan permohonan maaf atas izin penerbitan ETF berleverasi saham tunggal yang dinilai kurang dipertimbangkan secara matang.
Otoritas keuangan Korea Selatan saat ini sedang merumuskan aturan baru, termasuk pembatasan nilai investasi individu hingga maksimal 20 persen dari total portofolio.
Langkah stabilisasi lainnya mencakup kenaikan biaya transaksi serta kewajiban simulasi perdagangan bagi para investor produk berisiko tinggi.






















