Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi memberlakukan komposisi terbaru untuk Indeks KOMPAS100 terhitung mulai perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Perubahan daftar emiten ini merupakan bagian dari agenda rebalancing rutin yang dilakukan otoritas bursa untuk memastikan indeks tetap mencerminkan kondisi pasar terkini.
Daftar konstituen baru ini akan berlaku efektif hingga 29 Januari 2027. Dalam evaluasi berkala tersebut, BEI memutuskan untuk mengeluarkan sembilan emiten dari daftar indeks. Emiten yang tidak lagi masuk dalam perhitungan meliputi PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT MD Pictures Tbk (FILM). Selain itu, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) juga resmi keluar.
Sebagai pengganti, BEI memasukkan sembilan emiten baru ke dalam indeks acuan tersebut. Emiten-emiten yang kini bergabung yakni PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), serta PT Hartadinata Abadi Tbk (EMAS). Daftar tersebut dilengkapi oleh PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), dan PT RMK Energy Tbk (RMKE).
Proses penyesuaian berkala ini dilakukan untuk menjaga integritas Indeks KOMPAS100. Kriteria seleksi utama mencakup likuiditas transaksi yang tinggi, kapitalisasi pasar yang memadai, serta kualitas fundamental emiten yang solid. Perubahan komposisi ini menjadi krusial bagi pelaku pasar karena menjadi acuan bagi manajer investasi dalam mengelola reksa dana indeks maupun keputusan strategis investor institusi.
Di tengah dinamika pasar, kinerja indeks secara umum memang sedang mendapat tekanan. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih menyatakan dalam analisisnya bahwa Indeks KOMPAS100 mencatatkan pelemahan sebesar 31,58% secara year to date (YTD) per 31 Juli 2026. Angka tersebut tercatat lebih dalam dibandingkan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebesar 27,9%.
Tingginya tekanan jual oleh investor asing menjadi salah satu faktor utama pelemahan pasar. Ratih Mustikoningsih mengungkapkan, sepanjang periode 8 Juni hingga 31 Juli 2026, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp10,6 triliun. Secara akumulatif tahun berjalan, nilai jual bersih asing telah menembus angka Rp71,4 triliun.
“Berdasarkan hasil analisis ekonometrika U-MIDAS menggunakan data harian selama lima tahun terakhir, setiap arus modal keluar investor asing sebesar Rp1 triliun terbukti menekan IHSG secara real time sebesar 54,6 poin,” ujar Ratih.
Menyikapi kondisi tersebut, investor disarankan untuk tetap bersikap defensif namun adaptif. Strategi portofolio yang disarankan mencakup alokasi 45% pada saham value, 25% pada saham growth, dan 30% dalam bentuk kas. Sektor perbankan dinilai masih menarik karena menawarkan imbal hasil dividen (dividend yield) yang cukup tinggi, seperti yang terlihat pada BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA. Selain perbankan, saham sektor energi juga dipandang potensial seiring kenaikan harga minyak mentah Brent yang mencapai US$90 per barel.




















