Jakarta – Sektor industri baja nasional mencatatkan pemulihan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I-2026. Sejumlah emiten besar berhasil membalikkan kerugian menjadi laba bersih di tengah tantangan pasar yang dinamis.
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) memimpin tren positif ini dengan mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$ 622,74 juta, atau melonjak 35,1% secara tahunan (yoy). Perusahaan juga sukses membukukan laba bersih sebesar US$ 10,94 juta, berbalik dari posisi rugi US$ 105,38 juta pada periode yang sama tahun lalu. Capaian ini didorong oleh penyelesaian kewajiban utang melalui skema haircut serta divestasi aset strategis.
“Upaya ini tentu dilakukan dengan tetap memperhatikan tata kelola perusahaan yang baik dan penerapan manajemen risiko yang berkelanjutan di perusahaan,” ujar Plt. Corporate Secretary Krakatau Steel, Rachman Hidayat, sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi, Rabu (5/8/2026).
Kinerja impresif juga ditunjukkan oleh PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) yang mencatatkan laba bersih US$ 1,84 juta, kontras dengan kerugian US$ 20,98 juta pada semester I-2025. Di sektor hilir, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) membukukan kenaikan laba bersih 12,7% menjadi Rp 240,5 miliar. Sementara itu, PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) berhasil mencetak laba Rp 21,33 miliar dari sebelumnya rugi Rp 16,53 miliar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai perbaikan ini didorong oleh tiga faktor utama. Pemulihan permintaan domestik dari proyek infrastruktur dan hilirisasi mineral menjadi katalisator utama, disusul oleh stabilisasi harga bahan baku serta efisiensi operasional internal emiten.
“Khusus bagi KRAS, perbaikan struktur keuangan dan meningkatnya utilisasi fasilitas produksi mulai berdampak positif terhadap profitabilitas,” kata Nafan, Rabu (5/8/2026).
Kendati demikian, para analis mengingatkan bahwa fase ini lebih merupakan normalisasi daripada pemulihan struktural yang sepenuhnya stabil. Sektor baja masih dibayangi oleh kelebihan pasokan global dan ancaman banjir impor produk baja dari China.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa keberlanjutan kinerja positif di semester II-2026 sangat bergantung pada fluktuasi harga Hot Rolled Coil (HRC) dan harga gas industri. Ia menekankan perlunya koordinasi intensif antara pelaku industri dengan pemerintah terkait kebijakan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD).
“Sentimen positif tambahan adalah akselerasi realisasi APBN di semester II-2026 dan program hilirisasi yang membutuhkan baja sebagai material konstruksi,” ujar Wafi, Rabu (5/8/2026).
Wafi menambahkan, emiten perlu memperkuat segmen produk bernilai tambah tinggi untuk mempertebal margin keuntungan. Secara teknikal, KRAS dinilai memiliki keunggulan, sementara ISSP dianggap sebagai pilihan yang lebih defensif. Sebaliknya, saham GGRP dan BAJA dinilai masih dalam kategori spekulatif dengan likuiditas yang terbatas.
Nafan Aji Gusta merekomendasikan posisi add untuk saham KRAS dengan target harga Rp 270 per lembar, sementara untuk GGRP, ISSP, dan BAJA, investor disarankan untuk menerapkan strategi wait and see hingga kondisi pasar lebih stabil.























