Jakarta – Harga emas dunia diprediksi akan menghadapi fase volatilitas yang tinggi hingga penghujung tahun 2026.
Pergerakan komoditas logam mulia ini kini berada di bawah pengaruh kuat dari dinamika harga energi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Data pasar menunjukkan bahwa hingga Jumat (7/8/2026) malam, harga emas spot telah menyentuh level US$ 4.314 per ons troi.
Angka tersebut mencatatkan penguatan sebesar 1,77% dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya.
Kondisi geopolitik yang belum menentu menjadi pemicu utama ketidakpastian di pasar finansial global saat ini.
Analyst PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menyatakan bahwa fluktuasi harga minyak mentah menjadi variabel krusial dalam menentukan arah inflasi dunia.
“Harga minyak akan menentukan arah inflasi global,” ucap Brahmantya, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, pasar saat ini mencermati proses normalisasi distribusi energi yang berjalan lebih lambat dari proyeksi awal.
“Saat ini pasar mulai menilai bahwa normalisasi distribusi energi berlangsung lebih lambat dari perkiraan,” imbuhnya.
Brahmantya menambahkan bahwa jika biaya energi terus bertahan di level tinggi, tekanan inflasi akan sulit diredam.
“Jika harga energi tetap tinggi, tekanan inflasi juga akan bertahan sehingga kebijakan moneter AS berpotensi tetap ketat,” jelasnya.
Laporan dari Trading Economics pada Jumat (7/8/2026) mencatat harga minyak Brent berada di posisi US$ 81,83 per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis WTI diperdagangkan pada level US$ 76,96 per barel.
Tingginya harga energi memicu spekulasi mengenai langkah agresif bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan bulan September mendatang.
“Saat ini peluang kenaikan suku bunga pada September mulai meningkat,” papar Brahmantya.
Bahkan, sejumlah pelaku pasar mengestimasi probabilitas kenaikan suku bunga mencapai kisaran 60% hingga 65%.
Kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menjaga harga energi tetap melambung.
Situasi tersebut secara langsung berdampak pada ekspektasi inflasi yang sulit kembali ke target sasaran.
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena sifatnya yang tidak menghasilkan imbal hasil atau yield.
Investor cenderung mengalihkan modal mereka ke instrumen aset lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik saat suku bunga naik.
Meskipun demikian, Brahmantya menilai bahwa potensi penguatan emas masih tetap terbuka di masa mendatang.
“Ruang penguatan emas masih ada, tetapi kemungkinan bergerak lebih bertahap dibanding sebelumnya,” ungkapnya.
Hingga penutupan tahun, ia memproyeksikan harga emas akan berfluktuasi dalam rentang US$ 4.000 hingga US$ 4.500 per ons troi.
Arah pergerakan logam mulia ini akan terus bergantung pada tarik-menarik antara risiko geopolitik, stabilitas harga minyak, dan kebijakan moneter The Fed.





















