Pontianak – Kursi kepemimpinan Bank Indonesia kini menjadi sorotan utama pasar keuangan nasional pasca pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur pada 25 Juli 2026 lalu.
Untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut, Destry Damayanti yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior telah ditunjuk untuk menjalankan tugas sebagai pejabat Gubernur sementara.
Posisi Destry Damayanti kini disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk mengisi jabatan Gubernur BI secara definitif.
Informasi mengenai pencalonan Destry tersebut diungkapkan oleh sumber Reuters, yang menyebutkan bahwa nama Deputi Gubernur Senior tersebut telah masuk dalam daftar kandidat yang diserahkan kepada parlemen untuk diproses lebih lanjut.
Meski demikian, pemerintah hingga saat ini belum memberikan pengumuman resmi terkait sosok yang akan menahkodai bank sentral tersebut ke depan.
Proses uji kelayakan dan kepatutan bagi calon Gubernur BI diperkirakan baru akan bergulir setelah DPR menyelesaikan masa resesnya pada 14 Agustus 2026.
Terkait prosedur tersebut, Komisi XI DPR menegaskan komitmen mereka untuk melaksanakan tahapan seleksi secara objektif dan profesional sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.
Sosok Destry sendiri bukanlah orang baru di lingkungan otoritas moneter tanah air.
Ia telah menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior sejak 2019, dengan rekam jejak karier yang mumpuni di sektor finansial, termasuk pengalamannya di Citibank, Bank Mandiri, hingga Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.
Pentingnya peran Gubernur BI sering kali disalahpahami hanya sebatas menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Padahal, lingkup tanggung jawab bank sentral mencakup kestabilan nilai rupiah, stabilitas sistem pembayaran, hingga ketahanan sistem keuangan nasional.
Setiap kebijakan yang diputuskan oleh Dewan Gubernur BI memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat luas, mulai dari besaran suku bunga pinjaman, cicilan rumah, hingga kelancaran sistem pembayaran digital seperti QRIS dan BI-FAST.
Pada Juli 2026, BI tercatat mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen sebagai langkah strategis menjaga inflasi dan stabilitas rupiah.
Meskipun perubahan suku bunga tidak memberikan efek instan, langkah ini secara bertahap memengaruhi biaya dana di perbankan yang akhirnya menentukan beban bunga kredit bagi masyarakat.
Tantangan bagi pemimpin baru BI nantinya adalah menjaga keseimbangan yang rumit antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan meredam tekanan inflasi.
Di tengah ketidakpastian global, tekanan terhadap rupiah sempat mencapai level Rp18.190 per dolar AS pada 8 Juni 2026, yang memicu kekhawatiran kenaikan harga barang impor.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Destry Damayanti dalam forum resmi Bank Indonesia pada 4 Agustus 2026 menekankan pentingnya kredibilitas kelembagaan dan pengambilan keputusan berbasis data.
Ia menyatakan bahwa BI berkomitmen memperkuat riset yang relevan untuk mendukung perumusan kebijakan di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah, ujar Destry dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, Sabtu (8/8/2026).






















