KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja pasar modal Indonesia saat ini dinilai masih menghadapi tekanan yang cukup berat, meskipun dari sisi operasional dan aktivitas perdagangan tetap berjalan dengan relatif stabil.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, resiliensi pasar modal Indonesia memang masih terlihat, namun belum bisa dikatakan benar-benar kuat jika dilihat dari sisi kepercayaan investor, khususnya investor asing.
“Pasar memang masih berjalan, transaksi tetap berlangsung dan infrastrukturnya relatif mampu menghadapi tekanan. Tetapi kalau dilihat dari sisi kepercayaan investor, terutama asing, kita masih menghadapi tantangan yang cukup besar,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
Hendra mencatat, per Senin (10/8/2026), secara year-to-date (YtD), investor asing masih membukukan net sell di pasar reguler sekitar Rp95 triliun. Di saat yang sama, IHSG juga masih terkoreksi sekitar 26% dan menjadi salah satu pasar dengan kinerja terburuk secara global.
Wall Street Nyaris Stagnan, Pasar Cermati Situasi Selat Hormuz
“Jadi kondisi ini lebih menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sedang diuji cukup berat, bukan dalam kondisi yang sepenuhnya resilien,” tambahnya.
Menurut Hendra, tekanan terhadap IHSG tidak bisa semata-mata dianggap sebagai dampak sentimen jangka pendek. Faktor global memang berperan, mulai dari arah suku bunga global, dinamika geopolitik, hingga perubahan risk appetite investor terhadap pasar negara berkembang.
Namun demikian, tekanan yang berlangsung cukup panjang dinilai juga mencerminkan adanya faktor domestik yang ikut mempengaruhi.
“Kita melihat tekanan terhadap rupiah yang kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Ketika nilai tukar melemah, investor asing tentu akan menghitung ulang potensi return karena keuntungan dari saham bisa tergerus oleh risiko kurs,” jelasnya.
Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik juga dinilai belum sepenuhnya memberikan dorongan yang kuat bagi pasar saham.
“Pertumbuhan ekonomi dan daya beli belum memberikan sinyal yang cukup kuat, sementara tekanan terhadap rupiah masih berlangsung. Jadi koreksi IHSG ini merupakan kombinasi antara sentimen dan fundamental,” katanya.
Meski begitu, Hendra menegaskan bahwa tidak seluruh fundamental emiten mengalami penurunan. Banyak perusahaan di Bursa Efek Indonesia yang masih mencatatkan kinerja yang sehat.
Namun, pasar saham pada dasarnya bergerak berdasarkan ekspektasi ke depan.
“Ketika investor melihat risiko ekonomi dan nilai tukar meningkat, mereka akan meminta kompensasi yang lebih tinggi atau memilih mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia,” ujarnya.
Volume Ekspor Turun, Emiten Nikel Tetap Berpeluang Raih Kinerja Positif
Ia juga mengingatkan agar narasi mengenai resiliensi pasar modal tidak dilihat secara sempit, hanya dari sisi aktivitas perdagangan atau jumlah investor.
“Resiliensi itu bukan hanya soal bursa tetap buka atau transaksi tetap berjalan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pasar mampu mempertahankan kepercayaan investor ketika terjadi tekanan,” tegasnya.
Menurut Hendra, kondisi net sell asing yang besar serta koreksi IHSG yang dalam menunjukkan bahwa masih ada persoalan yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.
“Ini bukan semata-mata masalah sentimen, tetapi juga menyangkut bagaimana investor global melihat risiko dan kualitas pasar Indonesia,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menilai penguatan pasar modal tidak cukup hanya dengan menambah produk atau instrumen baru.
“Produk baru memang penting, tetapi jangan sampai kita terlalu fokus pada supply, sementara demand dan kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih,” katanya.
Menurutnya, investor akan masuk jika pasar dinilai kredibel, transparan, likuid, serta memiliki kepastian hukum yang kuat.
Karena itu, reformasi pasar modal dinilai harus benar-benar tercermin dalam praktik, terutama dalam hal penegakan aturan.
“Investor perlu melihat bahwa ketika ada manipulasi pasar, transaksi tidak wajar, atau pelanggaran tata kelola, akan ada tindakan yang tegas dan konsisten. Kalau tidak, risiko itu akan dimasukkan ke dalam valuasi aset Indonesia,” jelasnya.
Ke depan, Hendra menilai faktor utama yang akan menentukan resiliensi pasar modal adalah kemampuan untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Harga Emas Melonjak, Kinerja Hartadinata (HRTA) Melesat pada Semester I-2026
“Stabilitas rupiah menjadi kunci, kemudian fundamental ekonomi harus diperkuat, dan reformasi pasar modal harus meningkatkan transparansi serta perlindungan investor,” ujarnya.
Momentum 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, lanjut Hendra, seharusnya menjadi titik evaluasi yang lebih mendalam.
“Kita tidak hanya melihat usia pasar modal, tetapi juga apakah kualitas dan kepercayaan terhadap pasarnya semakin kuat. Pasar yang tangguh adalah pasar yang tetap dipercaya investor untuk menempatkan dan mempertahankan modalnya,” tutupnya.
Dengan kondisi saat ini, ia menilai pekerjaan rumah pasar modal Indonesia masih cukup besar, tidak hanya dari sisi kinerja indeks, tetapi juga dari fondasi kepercayaan investor secara keseluruhan.




















