New York – Pasar saham Amerika Serikat mengawali perdagangan hari ini dengan pergerakan yang cenderung mendatar akibat sikap waspada investor terhadap dinamika geopolitik global.
Indeks utama Wall Street mencatat fluktuasi tipis merespons ketegangan di kawasan Timur Tengah terkait akses Selat Hormuz.
Data perdagangan menunjukkan Dow Jones Industrial Average sempat menguat tipis 35,7 poin atau 0,07% ke posisi 54.072,66.
Di sisi lain, indeks S&P 500 terkoreksi 5,9 poin atau 0,08% menjadi 7.751,74.
Sementara itu, Nasdaq Composite juga melemah 10,2 poin atau 0,04% ke level 26.680,44.
Ketidakpastian ini dipicu oleh negosiasi jalur pelayaran baru antara Iran dan Oman yang melintasi titik strategis tersebut.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sepenuhnya bergantung pada pemenuhan persyaratan oleh Amerika Serikat.
Stabilitas pasokan energi global menjadi perhatian utama pasar karena berpotensi menekan harga minyak yang memicu inflasi.
Para pelaku pasar kini menanti rilis data harga konsumen dan produsen yang dijadwalkan meluncur akhir pekan ini.
Data tersebut dianggap krusial dalam menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.
“Narasi yang berkembang saat ini adalah bahwa inflasi masih tinggi, namun tidak terlalu jauh dari target 2% The Fed. Ini belum berarti kemenangan, tetapi merupakan sebuah kemajuan,” ujar Bob Edwards, Chief Investment Officer di Edwards Asset Management, dikutip dari Reuters, Selasa (11/8/2026).
Sentimen pasar sedikit membaik setelah data tenaga kerja AS bulan Juli menunjukkan penurunan lapangan kerja yang tidak terduga.
Situasi tersebut meredam spekulasi mengenai agresivitas kenaikan suku bunga acuan bank sentral.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada September kini berada di angka 44%.
“Laporan IHK yang tidak mengkhawatirkan dan tidak adanya kenaikan suku bunga pada bulan September akan memberi pasar ini dorongan untuk melaju lebih cepat,” tambah Edwards.
Agenda korporasi pekan ini akan diwarnai oleh laporan kinerja keuangan dari Applied Materials dan Cisco.
Sejumlah saham perusahaan besar menunjukkan reaksi beragam di tengah dinamika pasar saat ini.
Saham GameStop terpantau naik 2,4% menyusul kabar rencana pembatalan akuisisi eBay senilai US$ 56 miliar.
Sebaliknya, saham Barrick Mining merosot 5,7% setelah laporan laba kuartal kedua meleset dari ekspektasi analis.
Intel juga mencatatkan penurunan sebesar 4,6% setelah perusahaan mengumumkan penawaran saham senilai US$ 15 miliar.
Apple ikut tertekan sebesar 1,1% setelah peringkat sahamnya diturunkan oleh analis menjadi underperform.
Selain faktor ekonomi, stabilitas politik di Washington turut menjadi sorotan setelah Senat AS mengesahkan pendanaan federal hingga 11 Desember.
Langkah ini berhasil mencegah penutupan operasional pemerintah menjelang pemilu sela mendatang.
Kini, pasar menunggu pernyataan dari pejabat The Fed Cleveland, Beth Hammack, yang dijadwalkan berbicara hari ini mengenai prospek ekonomi.





















