BI Tahan Suku Bunga, Perusahaan Pembiayaan Lebih Selektif Terbitkan Obligasi

Kholida Rahman

BI Tahan Suku Bunga, Perusahaan Pembiayaan Lebih Selektif Terbitkan Obligasi

Jakarta – Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen pada Selasa (6/10/2026).

Kebijakan moneter ini berdampak langsung pada strategi pendanaan sektor multifinance di Indonesia.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai keputusan tersebut membuat perusahaan pembiayaan cenderung lebih berhati-hati dalam menerbitkan surat utang atau obligasi.

Meski begitu, langkah BI tersebut dipandang tidak serta-merta menghentikan aksi korporasi di pasar obligasi.

“Meski demikian, hal itu juga tidak menghentikan penerbitan obligasi oleh multifinance,” ujar Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, Senin (5/10/2026).

Ahmad menjelaskan, ada sisi positif dari kebijakan ini bagi industri keuangan.

Keputusan mempertahankan suku bunga dapat membantu perusahaan memitigasi risiko kenaikan biaya dana tambahan untuk jangka pendek.

Namun, dia mengingatkan bahwa level suku bunga saat ini masih tergolong tinggi dibandingkan posisi awal tahun yang berada di angka 4,75 persen.

“Dengan demikian, biaya penerbitan belum kembali ke level yang lebih murah,” kata Ahmad Nasrudin.

Menurut analisis Pefindo, otoritas moneter mempertahankan suku bunga utamanya guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari tekanan eksternal.

Kondisi makroekonomi ini membuat perusahaan multifinance harus lebih selektif dalam menentukan waktu penerbitan surat utang.

Strategi perusahaan kini sangat bergantung pada kebutuhan mendesak masing-masing entitas.

Perusahaan yang memiliki kebutuhan untuk refinancing atau menambah modal kerja tetap memiliki alasan kuat untuk masuk ke pasar obligasi.

Di sisi lain, perusahaan yang memiliki posisi likuiditas memadai cenderung memilih untuk menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.

Ahmad menambahkan, keputusan untuk menerbitkan obligasi tidak hanya terpaku pada angka BI Rate semata.

Terdapat beberapa faktor pendukung lainnya yang menjadi pertimbangan utama manajemen perusahaan.

Faktor tersebut mencakup tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah, minat investor, serta ketersediaan alternatif pendanaan dari perbankan.

Pola perilaku pasar ini sudah terlihat sepanjang tahun 2026 berjalan.

Perusahaan multifinance tetap melakukan penerbitan obligasi, namun dengan perhitungan yang lebih matang.

Mereka lebih cermat dalam memilih tenor, nilai emisi, hingga momentum yang tepat untuk masuk ke pasar.

Data Pefindo menunjukkan volume penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 19,62 triliun hingga akhir September 2026.

Angka tersebut mencatatkan penurunan sebesar 33,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pada tahun 2025, volume penerbitan pada periode yang sama sempat menyentuh angka Rp 29,33 triliun.

Penurunan ini mencerminkan sikap kehati-hatian industri dalam menghadapi dinamika suku bunga yang masih berada di level tinggi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar