New York – Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan akhir pekan pada Sabtu, 22 Agustus 2026, dengan penguatan di seluruh indeks utama.
Dow Jones Industrial Average berhasil ditutup naik 517,80 poin atau 0,98% ke level 53.277,01.
Indeks S&P 500 turut mencatatkan kenaikan sebesar 33,21 poin atau 0,43% menuju posisi 7.674,37.
Nasdaq Composite ikut terangkat 113,29 poin atau 0,44% hingga berakhir di level 26.180,46.
Meskipun berakhir positif pada Jumat, performa mingguan pasar saham AS secara keseluruhan masih tertekan.
Selama satu pekan terakhir, indeks S&P 500 tercatat mengalami penurunan sebesar 1,43%.
Indeks Nasdaq mengalami koreksi lebih dalam dengan penurunan sebesar 2,05%.
Dow Jones juga tidak luput dari tren negatif mingguan setelah terkoreksi 0,85%.
Indeks Russell 2000 yang mewakili saham berkapitalisasi kecil mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak awal Juni, yakni sebesar 1,65%.
Sentimen pelaku pasar sepanjang pekan ini didominasi oleh kekhawatiran terhadap fluktuasi imbal hasil obligasi pemerintah.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut menjadi faktor penekan yang membatasi pergerakan indeks.
Volume perdagangan tercatat mencapai 14,91 miliar saham, di bawah rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang sebesar 16,62 miliar saham.
Sektor material menjadi penopang utama kenaikan pada Jumat dengan pertumbuhan sebesar 2,2%.
Sektor kesehatan dan keuangan juga menunjukkan performa solid dengan kenaikan masing-masing 1,3% dan 1%.
Sebaliknya, sektor utilitas justru terpuruk dengan penurunan tajam sebesar 2,3%.
Saham individu seperti Ross Stores mencatatkan kinerja impresif dengan kenaikan 4,4% pasca rilis laporan keuangan yang melampaui ekspektasi.
Sektor teknologi dan kripto juga bergairah, ditandai dengan lonjakan saham Robinhood sebesar 13,7%.
Coinbase Global dan MicroStrategy masing-masing menguat 8,2% dan 6% seiring dengan reli harga bitcoin.
Chris Zaccarelli, kepala pejabat investasi di Northlight Asset Management, menyatakan bahwa suasana pasar pada hari Jumat cenderung lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Di pertengahan pekan, investor saham khawatir bahwa imbal hasil obligasi akan terus melonjak tanpa henti. Namun, dengan adanya pengumuman dari Departemen Keuangan, investor tidak lagi terlalu khawatir,” ujarnya dikutip dari Reuters, Sabtu (22/8/2026).
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memberikan sinyal mengenai peningkatan pembelian kembali obligasi pemerintah.
Langkah ini dilakukan untuk meredam kekhawatiran pasar terhadap biaya pinjaman yang lebih tinggi.
Data ekonomi terbaru juga memberikan optimisme setelah sektor jasa AS mencatatkan pertumbuhan terkuat dalam dua tahun terakhir.
Di sisi lain, ancaman sanksi ekonomi AS terhadap Iran memicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah.
Harga minyak Brent dan minyak mentah AS tercatat mengalami reli selama enam hari berturut-turut.
Investor kini mengalihkan fokus pada laporan kinerja kuartalan sejumlah perusahaan teknologi besar pekan depan.
Pasar juga menantikan rilis data indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi untuk memantau arah kebijakan moneter Federal Reserve.



















