Saham Pemilik Texas Chicken Melonjak 116%, Investor Perlu Waspadai Kerugian

Rayhan Akhari

Saham Pemilik Texas Chicken Melonjak 116%, Investor Perlu Waspadai Kerugian

Jakarta – Saham emiten pengelola jaringan restoran Texas Chicken, PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI), mencatatkan lonjakan harga signifikan hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA) pada perdagangan Jumat (21/8/2026).

Nilai saham perusahaan tersebut ditutup menguat sebesar 34,68 persen ke level Rp 167 per lembar saham.

Aksi beli investor yang masif ini telah mendorong akumulasi kenaikan harga saham CSMI hingga 116,88 persen dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Fenomena lonjakan harga saham ini terjadi di tengah kondisi fundamental perusahaan yang masih dibayangi tantangan kinerja keuangan pada semester I 2026.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang berakhir pada 30 Juni 2026, perseroan tercatat masih membukukan kerugian bersih.

Meskipun demikian, manajemen berhasil menekan angka kerugian dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Data perusahaan menunjukkan bahwa penjualan bersih CSMI selama semester pertama 2026 mencapai Rp 853,99 juta.

Angka tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 4,68 persen apabila dibandingkan dengan catatan penjualan pada periode serupa di tahun 2025 yang sebesar Rp 815,84 juta.

Setelah dikurangi beban pokok penjualan sebesar Rp 333,06 juta, perseroan berhasil mengantongi laba kotor sebesar Rp 520,93 juta.

Capaian laba kotor ini juga menunjukkan peningkatan dari angka Rp 484,97 juta yang diraih pada Juni 2025.

Namun, tingginya beban operasional menjadi faktor utama yang menghambat performa laba bersih perusahaan.

Beban penjualan dan distribusi tercatat membengkak hingga mencapai Rp 1,09 miliar.

Selain itu, perseroan juga harus menanggung beban umum dan administrasi sebesar Rp 348,49 juta.

Secara akumulatif, total beban usaha yang harus ditanggung CSMI mencapai Rp 1,44 miliar.

Jumlah beban tersebut jauh melampaui perolehan laba kotor yang hanya sebesar Rp 520,93 juta.

Akibatnya, CSMI membukukan rugi bersih periode berjalan sebesar Rp 923,91 juta pada semester I 2026.

Meskipun masih berada dalam posisi rugi, angka tersebut menunjukkan perbaikan sebesar 9,35 persen dibandingkan rugi bersih Rp 1,02 miliar pada semester I 2025.

Perbaikan kinerja juga tercermin pada rugi bersih per saham yang menyusut menjadi Rp 1,13 dari sebelumnya Rp 1,25 per saham.

Dari sisi neraca keuangan, total aset perusahaan per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 43,47 miliar, menurun dari posisi akhir Desember 2025 yang mencapai Rp 44,52 miliar.

Total liabilitas perusahaan terpantau relatif stabil di angka Rp 39,73 miliar, sedikit lebih rendah dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 39,86 miliar.

Sementara itu, ekuitas perusahaan mengalami tekanan akibat akumulasi kerugian yang terus bertambah.

Total ekuitas CSMI turun menjadi Rp 3,74 miliar dari sebelumnya Rp 4,66 miliar pada akhir tahun 2025.

Akumulasi kerugian perusahaan kini meningkat menjadi Rp 69,49 miliar, naik dari posisi Rp 68,56 miliar pada akhir 2025.

Di balik tantangan tersebut, posisi kas dan setara kas perusahaan justru mengalami peningkatan menjadi Rp 237,65 juta per akhir Juni 2026, meningkat dibandingkan Rp 140,25 juta pada akhir 2025.

Manajemen menyatakan bahwa kenaikan saldo kas tersebut terutama ditopang oleh penerimaan dari aktivitas operasional perusahaan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar