New York – Indeks utama Wall Street mengawali perdagangan Senin (24/8/2026) dengan pelemahan di tengah sentimen geopolitik dan penantian data ekonomi krusial.
Dow Jones Industrial Average tercatat turun 15,1 poin atau 0,03% ke level 53.261,95 pada pembukaan pasar.
Indeks S&P 500 juga terkoreksi 11,0 poin atau 0,14% menjadi 7.663,38.
Sementara itu, Nasdaq Composite mengalami tekanan lebih dalam dengan penurunan 115,1 poin atau 0,44% ke level 26.065,32.
Investor saat ini tengah mengantisipasi langkah pemerintah Amerika Serikat terkait ancaman sanksi ekonomi terhadap Iran.
Langkah yang disebut sebagai “serangan finansial terbesar yang pernah ada” tersebut memicu kekhawatiran mengenai stabilitas harga energi global.
Menteri Keuangan Scott Bessent dijadwalkan akan memberikan keterangan resmi mengenai kebijakan ini dalam konferensi pers sore nanti.
Ketidakpastian ekonomi ini turut dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS pada pekan lalu.
Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun terakhir.
Kondisi tersebut menekan saham-saham sektor teknologi yang sangat sensitif terhadap suku bunga dan biaya pinjaman.
Terdapat laporan bahwa Departemen Keuangan AS mempertimbangkan penggunaan Rekening Umum senilai US$ 1 triliun untuk pembelian kembali obligasi, dikutip dari CNBC (24/8/2026).
Langkah ini diproyeksikan sebagai upaya untuk meredam volatilitas di pasar surat utang.
Di sisi lain, pelaku pasar tengah menunggu rilis kinerja kuartalan raksasa kecerdasan buatan, Nvidia.
Laporan ini dianggap krusial untuk menentukan apakah reli saham berbasis AI masih memiliki ruang untuk tumbuh.
“Sektor cip telah menjadi area yang mengalami euforia berlebihan,” ujar Marta Norton, kepala strategi investasi di Empower, sebagaimana dikutip dari Reuters (24/8/2026).
Ia menambahkan bahwa fundamental perusahaan yang hebat tidak selalu menjamin investasi yang menarik pada valuasi saat ini.
Kekhawatiran terhadap valuasi yang terlalu tinggi terlihat dari pergerakan saham produsen cip hari ini.
Saham Marvell Technology dan Micron Technology masing-masing terpantau melemah lebih dari 3%.
Penurunan lebih tajam dialami oleh saham Sandisk yang terkoreksi sebesar 5,4%.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) yang akan dirilis Rabu mendatang.
Data PCE merupakan indikator utama bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pasar saat ini telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun 2026, berdasarkan data LSEG.
Pekan ini akan menjadi fase penentu bagi indeks saham untuk menguji kembali rekor tertingginya.
Pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, di simposium Jackson Hole akhir pekan ini pun menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar.





















