Jakarta – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang berorientasi pada stabilitas ekonomi domestik pada Senin, 24 Agustus 2026.
Langkah ini diambil setelah otoritas moneter tersebut melakukan penyesuaian kenaikan suku bunga acuan sebesar 1 persen sejak Mei lalu, sehingga kini berada di level 5,75 persen.
Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan likuiditas serta penentuan arah kebijakan moneter nasional ke depan.
Di tengah upaya menjaga stabilitas tersebut, Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia mencatat adanya tren penurunan tekanan inflasi.
Kondisi ini didorong oleh melandainya harga komoditas pangan serta minyak di pasar global yang mulai kembali ke sasaran target.
Kendati demikian, ruang bagi bank sentral untuk melakukan pemangkasan suku bunga dinilai masih sangat terbatas saat ini.
Langkah menahan suku bunga dianggap krusial demi menjaga selisih imbal hasil serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Head of Fixed Income AllianzGI, Fitri Lindawati, menyarankan para investor untuk tetap menerapkan strategi portofolio yang bersifat defensif namun tetap fleksibel.
Instrumen pasar uang dinilai masih cukup menarik sebagai penyangga di tengah volatilitas nilai tukar rupiah dan perubahan kondisi pasar yang dinamis.
“Dalam jangka pendek, kami melihat pendapatan dari kupon obligasi (carry) masih lebih menarik dibanding capital gain,” ujar Fitri dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).
Ia menambahkan bahwa obligasi dengan tenor pendek saat ini menawarkan risk-adjusted return yang cukup kompetitif bagi pelaku pasar.
Posisi kas yang memadai juga dipandang penting untuk menjaga fleksibilitas dalam menambah eksposur risiko ketika terjadi dislokasi pasar.
Strategi ini memungkinkan investor untuk menangkap peluang investasi baru saat muncul valuasi yang lebih menarik.
Terkait portofolio obligasi, AllianzGI Indonesia menyarankan agar durasi tetap dipertahankan pada posisi netral atau sedikit di bawah acuan.
Investor disarankan untuk menambah durasi investasi hanya ketika terjadi repricing yang lebih menguntungkan di pasar.
Beralih ke sektor global, pasar kredit kini menghadapi dinamika baru akibat masifnya penerbitan obligasi dari perusahaan teknologi besar atau hyperscalers.
Nilai obligasi perusahaan yang bergerak di sektor kecerdasan buatan (AI) tersebut kini mencapai hampir US$500 miliar, termasuk US$100 miliar untuk pengembangan pusat data.
Pelebaran spread setelah aksi jual saham berbasis AI pada Juli lalu dinilai membuka peluang investasi selektif pada penerbit dengan fundamental kredit yang kuat.
AllianzGI tetap menaruh pandangan positif terhadap hyperscalers terkemuka karena didukung oleh neraca keuangan yang sehat dan diversifikasi bisnis yang luas.
Selain itu, investment-grade floating-rate notes dipandang dapat menjadi penopang portofolio yang stabil bagi para investor.
Obligasi dengan imbal hasil tinggi juga dinilai mampu meningkatkan pendapatan portofolio sekaligus meredam volatilitas dari pasar saham.
Ke depan, pelaku pasar global diminta tetap mencermati pergerakan yen Jepang yang berpotensi memengaruhi stabilitas valuta asing.
Pertemuan bankir sentral di Jackson Hole juga menjadi sorotan utama karena diyakini akan memberikan petunjuk arah kebijakan Federal Reserve.
Perkembangan geopolitik di Selat Hormuz juga terus dipantau karena berisiko memicu kenaikan harga minyak dunia jika ketegangan terus berlanjut.
Secara keseluruhan, AllianzGI menekankan pentingnya pendekatan berbasis fundamental serta riset independen dalam menghadapi dinamika pasar kredit global.





















