Harga Minyak Brent Turun ke US$ 78 per Barel
Agu. 5, 2026
Agu. 5, 2026
Harga minyak Brent turun ke level US$ 78 per barel seiring menguatnya optimisme pasar terhadap pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Penurunan ini dipicu oleh kemajuan negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran serta peningkatan stok minyak mentah di Amerika Serikat.
Jul. 27, 2026
Bursa saham Asia menguat seiring anjloknya harga minyak dunia pasca meredanya konflik AS-Iran. Penurunan harga energi ini meredakan kekhawatiran inflasi sekaligus memicu optimisme investor menjelang rapat bank sentral dan rilis laporan kinerja emiten pekan ini.
Jul. 20, 2026
Harga emas terkoreksi di awal pekan ini seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang memicu spekulasi kenaikan suku bunga The Fed. Investor kini mencermati dampak konflik tersebut terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat dan stabilitas harga komoditas global.
Jul. 14, 2026
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu volatilitas di Wall Street, menyebabkan indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah. Lonjakan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz turut menekan saham sektor teknologi, terutama produsen semikonduktor yang mengalami aksi jual cukup agresif.
Jul. 9, 2026
Bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi setelah pernyataan Presiden AS mengenai berakhirnya potensi kesepakatan damai dengan Iran memicu ketidakpastian geopolitik. Kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah turut mendorong lonjakan harga minyak dan menekan pasar saham global.
Jul. 8, 2026
Wall Street dibuka melemah setelah Presiden Donald Trump menyatakan berakhirnya kesepakatan sementara dengan Iran. Ketegangan geopolitik ini memicu kekhawatiran investor dan kenaikan harga minyak, yang turut menekan performa bursa saham Amerika Serikat.
Grup Djarum resmi memperkuat kendali atas PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melalui konversi obligasi menjadi 6,31 miliar saham baru. Aksi korporasi ini dilakukan oleh enam entitas terafiliasi di tengah upaya perusahaan telekomunikasi tersebut menghindari ancaman forced delisting dari Bursa Efek Indon...

Margin bunga bersih atau NIM sejumlah bank jumbo di Indonesia mengalami tekanan sepanjang 2026 akibat kenaikan biaya dana yang melampaui penyesuaian suku bunga kredit. Meski profitabilitas tergerus, fundamental perbankan dinilai tetap kuat dengan potensi stabilisasi di masa mendatang.

Rencana BEI menghapus batas minimum harga saham Rp50 berpotensi memberikan sentimen positif bagi emiten seperti GOTO. Kebijakan ini diharapkan membuka ruang price discovery yang lebih sehat dan memungkinkan pergerakan harga ditentukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar serta fundamental perusahaan.

Sektor pusat data di Indonesia kini menjadi magnet pertumbuhan baru bagi emiten besar seperti Telkom, Indosat, dan DCI Indonesia. Dengan pasar yang masih berada pada tahap awal, persaingan ekspansi infrastruktur semakin ketat untuk menangkap potensi kebutuhan komputasi yang terus melonjak.

Agu. 24, 2026





