Bersiap IPO, Simak Prospek Bisnis Swayasa Prakarsa (SWAP)

persen

Bersiap IPO, Simak Prospek Bisnis Swayasa Prakarsa (SWAP)

Jakarta – PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) resmi memulai langkah strategis untuk melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Perusahaan manufaktur produk kesehatan yang berbasis pada riset ini menawarkan sebanyak 323 juta saham baru kepada publik.

Jumlah saham tersebut setara dengan 30,30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan setelah proses IPO selesai.

Dalam periode penawaran awal atau bookbuilding, perseroan mematok harga saham di kisaran Rp 130 hingga Rp 140 per lembar.

Dana segar yang berpotensi dihimpun oleh perusahaan melalui aksi korporasi ini mencapai angka maksimal Rp 45,22 miliar.

PT Sukadana Prima Sekuritas telah ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam proses penawaran saham perdana ini.

Rencananya, dana hasil IPO akan dialokasikan sebesar Rp 15,8 miliar untuk modal kerja operasional.

Selain itu, perusahaan mengalokasikan Rp 12,2 miliar untuk kebutuhan belanja modal dan Rp 12 miliar untuk pembayaran kewajiban utang.

Langkah ini diharapkan mampu memperluas kapasitas produksi sekaligus memperbaiki struktur keuangan perseroan.

Sektor kesehatan yang digeluti Swayasa Prakarsa dinilai memiliki prospek positif, terutama dengan adanya hilirisasi riset dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pengembangan produk spesifik seperti stent jantung, External Ventricular Drain (EVD), serta ventilator neonatal menjadi nilai tambah bagi perusahaan.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengatakan bahwa pada harga Rp 130–Rp 140, SWAP memiliki rasio Price to Book Value (PBV) sekitar 2,33–2,38 kali.

“Namun, kinerja keuangan yang masih mencatat rugi menjadi pertimbangan dan meningkatkan risiko investasi, sehingga valuasi perlu dilihat secara hati-hati,” ujarnya, Senin (24/8/2026).

Di sisi lain, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyoroti positioning unik perusahaan sebagai manufaktur berbasis inovasi.

Meski memiliki cerita pertumbuhan yang menarik, ia mengingatkan adanya risiko eksekusi yang cukup tinggi bagi para calon investor.

“Kinerja juga masih perlu dicermati karena pendapatan 2025 turun sekitar 30% menjadi Rp7,12 miliar dan laba turun sekitar 59% menjadi Rp1,42 miliar, sementara Januari hingga Februari 2026 masih membukukan rugi Rp570 juta,” ucap Elandry.

Ia menambahkan bahwa untuk jangka panjang, investor disarankan untuk melakukan strategi wait and see terlebih dahulu.

Hal ini diperlukan untuk menunggu konsistensi pertumbuhan pendapatan serta perbaikan profitabilitas perusahaan di masa mendatang.

Selain itu, keberhasilan produk riset dalam menembus pasar yang lebih luas menjadi indikator kunci keberhasilan bisnis SWAP ke depan.

Tantangan utama yang dihadapi perusahaan mencakup persaingan ketat dengan pemain industri kesehatan yang lebih mapan.

Aspek distribusi, kesadaran merek (brand awareness), dan kemampuan komersialisasi produk menjadi faktor krusial yang menentukan keberlangsungan usaha.

Investor diingatkan untuk tidak hanya terpaku pada nominal harga IPO yang terlihat murah secara angka saja.

Analisis mendalam mengenai fundamental perusahaan, rekam jejak pertumbuhan, serta penggunaan dana hasil IPO tetap menjadi prioritas utama.

Selain itu, likuiditas saham pasca pencatatan di bursa juga perlu diperhatikan, mengingat free float sebesar 30,3% tidak menjamin perdagangan akan selalu likuid.

Kondisi sentimen pasar saat saham mulai diperdagangkan nantinya akan menjadi penentu penting bagi pergerakan harga di pasar sekunder.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar