Penghapusan Batas Harga Saham Berpotensi Dongkrak Kinerja Saham GOTO

Kholida Rahman

Penghapusan Batas Harga Saham Berpotensi Dongkrak Kinerja Saham GOTO

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mematangkan rencana kebijakan baru yang akan menurunkan batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 menjadi Rp1.

Langkah ini diprediksi akan mengubah peta perdagangan bagi sejumlah emiten yang selama ini tertahan di level harga terendah atau lazim disebut sebagai saham “gocap”.

Beberapa emiten yang saat ini berada di level Rp50 di antaranya adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kebijakan penghapusan batas harga minimum ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi mekanisme pasar.

“Namun, dampaknya tidak otomatis bullish karena harga nantinya benar-benar akan ditentukan oleh keseimbangan supply-demand,” ujar Nafan dikutip dari keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

Menurut Nafan, kebijakan ini membuka ruang price discovery yang lebih luas sehingga harga saham dapat mencerminkan kondisi fundamental dan persepsi pasar secara lebih akurat.

Selama ini, saham yang terkunci di level Rp50 tidak memiliki ruang penurunan lebih lanjut di pasar reguler, yang menyebabkan proses pembentukan harga menjadi kurang optimal.

Dengan batas minimum baru di angka Rp1, pasar memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menemukan harga keseimbangan yang sesungguhnya.

Namun, ia menegaskan bahwa perubahan aturan ini tidak serta-merta membuat seluruh saham berharga rendah menjadi menarik bagi investor.

Sebaliknya, saham dengan fundamental lemah justru berisiko mengalami penurunan harga lebih dalam setelah batas Rp50 dihapus.

“Positifnya lebih bersifat struktural dan tidak otomatis berarti seluruh saham ‘gocap’ akan menjadi menarik,” tambah Nafan.

Ia menekankan bahwa investor kini harus bersikap lebih selektif karena saham dengan kinerja buruk bisa terkoreksi ke level yang jauh lebih rendah.

Terkait GOTO, Nafan mencatat bahwa emiten teknologi tersebut memiliki faktor penopang seperti rencana buyback saham senilai Rp3,5 triliun dan perbaikan kinerja operasional.

GOTO sendiri sempat mencatatkan kinerja positif pada kuartal II-2026 dengan laba bersih mencapai Rp252 miliar, melanjutkan tren keuntungan dari kuartal sebelumnya.

Senada dengan hal tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa kebijakan ini akan membuka kemungkinan saham ditransaksikan hingga harga Rp1 di pasar reguler.

Liza menjelaskan bahwa secara teori, GOTO memang bisa bergerak turun di bawah Rp50, namun pergerakan harga tetap bergantung pada kekuatan fundamental dan sentimen pasar.

Ia menambahkan bahwa kebijakan ini memberikan jalan keluar bagi investor untuk melakukan transaksi pada saham yang selama ini antreannya tertahan di level harga Rp50.

Secara keseluruhan, pelaku pasar diharapkan memandang kebijakan ini sebagai upaya peningkatan efisiensi pasar, bukan sebagai celah untuk melakukan spekulasi pada saham berharga murah.

Keputusan final mengenai penerapan aturan ini masih dinantikan oleh para pelaku industri pasar modal di Indonesia.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar