Jakarta – PT Harum Energy Tbk (HRUM) diproyeksikan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan kinerja keuangan yang impresif hingga penutupan tahun 2026.
Optimisme ini didorong oleh keberhasilan transformasi bisnis perusahaan yang kini berfokus pada sektor nikel sebagai penggerak utama pendapatan.
Sepanjang semester pertama tahun 2026, emiten tersebut mencatatkan pendapatan sebesar US$ 1,08 miliar.
Angka tersebut mencerminkan lonjakan signifikan sebesar 67% secara tahunan atau year on year (yoy).
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba bersih perusahaan turut meroket hingga 237% yoy menjadi US$ 129,3 juta.
Pencapaian EBITDA juga mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 140% yoy menjadi US$ 264,5 juta pada periode yang sama.
Manajemen HRUM menjelaskan melalui laporan resmi perusahaan, Selasa (25/8/2026), bahwa performa tersebut didorong oleh peningkatan volume penjualan komoditas nikel.
Penjualan komersial Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) menjadi katalis utama yang memperkuat arus kas perusahaan.
Volume penjualan nikel tercatat tumbuh 69% yoy menjadi 56.371 ton, didukung oleh harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) yang naik 32% yoy menjadi US$ 15.958 per ton.
Peningkatan kapasitas produksi melalui anak usaha, PT Blue Sparking Energy (BSE), dinilai menjadi faktor krusial dalam keberhasilan ini.
Segmen nikel kini mendominasi kontribusi pendapatan perusahaan dengan porsi mencapai 97% sepanjang semester I-2026.
Manajemen HRUM menyatakan bahwa nikel telah berhasil mengimbangi penurunan kontribusi dari sektor batubara sekaligus memperkuat transformasi strategis perusahaan.
Sementara itu, segmen batubara sempat mengalami kontraksi volume sebesar 92% yoy menjadi 0,8 juta ton akibat kendala persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di awal tahun.
Perusahaan saat ini membidik target produksi batubara sebesar 3 juta ton yang diharapkan dapat terealisasi pada semester II-2026.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai posisi HRUM kini telah bergeser menjadi perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi.
Nafan Aji Gusta mengungkapkan dalam pernyataannya, Senin (24/8/2026), bahwa sentimen positif bagi perusahaan terletak pada semakin terintegrasinya rantai nilai nikel.
Integrasi ini memungkinkan perusahaan memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari aktivitas hilirisasi produk.
Meskipun prospek kinerja dinilai positif, perusahaan tetap perlu memitigasi berbagai risiko eksternal yang membayangi.
Risiko tersebut mencakup volatilitas harga komoditas global, potensi kelebihan pasokan nikel, serta biaya operasional smelter yang tinggi.
Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa perusahaan harus tetap menjaga disiplin biaya dan efisiensi operasional guna memastikan proyek nikel mencapai utilisasi optimal.
Dalam pandangannya, keseimbangan antara pertumbuhan bisnis nikel dan kemampuan menghasilkan arus kas dari batubara menjadi kunci keberlanjutan.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan add untuk saham HRUM dengan target harga berada di level Rp 970 per saham.




















