Strategi Investasi Miming Satyono Membangun Samuel Tumbuh Bersama

Rayhan Akhari

Strategi Investasi Miming Satyono Membangun Samuel Tumbuh Bersama

Jakarta – Strategi alokasi aset yang dinamis menjadi kunci utama bagi investor kawakan, Miming Satyono, dalam mengarungi ketidakpastian pasar modal di tahun 2026. Founder PT Samuel Tumbuh Bersama ini menekankan bahwa membangun portofolio investasi memerlukan pemahaman mendalam mengenai bisnis, manajemen risiko, serta tujuan jangka panjang yang terukur.

Miming menyarankan komposisi aset yang terbagi ke dalam beberapa instrumen untuk menghadapi volatilitas pasar. Ia merekomendasikan alokasi 40% pada saham, 30% pada instrumen pendapatan tetap, 20% dalam bentuk deposito, serta masing-masing 5% untuk emas dan aset kripto.

“Rekomendasi alokasi aset saya dimaksudkan sebagai kerangka kerja umum bagi investor dengan toleransi risiko tinggi,” ujar Miming sebagaimana dikutip dari pernyataan tertulisnya, Sabtu (29/8/2026).

Meskipun angka tersebut bukan merupakan gambaran aset tetap, ia sempat menerapkan pola ini sejak awal tahun 2026. Ia menegaskan bahwa saham tetap menjadi instrumen paling efektif untuk pertumbuhan aset, meski investasi tersebut tidak luput dari risiko fluktuasi harga.

Pengalaman profesional Miming di dunia keuangan dimulai sejak 1981 saat ia bergabung dengan Citibank selama 11 tahun. Jabatan terakhirnya sebagai Vice President Head of Investment Banking memberikan landasan kuat dalam analisis risiko dan imbal hasil.

“Pengalaman di Citibank memberikan landasan yang kuat bagi saya, terutama dalam hal analisis risiko dan imbal hasil (risk/reward), analisis korporasi, manajemen risiko, pengembangan produk, serta pemahaman mendalam mengenai kebutuhan perusahaan maupun investor,” kata Miming.

Filosofi investasi yang dianutnya berkembang dari sekadar upaya menjaga modal menjadi sarana untuk menciptakan dampak ekonomi yang luas. Ia meyakini bahwa investasi saham memiliki efek pengganda yang memungkinkan perusahaan dan masyarakat tumbuh bersama.

Dalam perjalanan kariernya, ia pun pernah melakukan kesalahan investasi, termasuk keputusan cut loss pada proyek pembangkit listrik tenaga air. Namun, ia memandang kerugian tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk mempertajam filosofi investasi.

“Yang terpenting adalah mempertajam filosofi investasi Anda setiap kali mengalami kerugian dan memastikan bahwa Anda belajar darinya,” ucapnya.

Bagi investor pemula, Miming memberikan catatan khusus agar tidak terjebak pada tren sesaat atau keinginan mendapatkan imbal hasil instan. Ia menyarankan agar investor fokus pada tujuan keuangan, jangka waktu, dan profil risiko masing-masing.

Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin dan menghindari penggunaan dana darurat atau utang berlebih dalam berinvestasi. Menurutnya, investor yang baik adalah mereka yang mampu mengelola emosi dan terus belajar dari setiap pergerakan pasar yang tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya.

Ke depan, Miming tetap membuka peluang untuk menjajaki instrumen baru seperti energi terbarukan dan infrastruktur digital. Namun, ia akan menunggu hingga instrumen tersebut memiliki likuiditas dan tingkat kematangan yang memadai guna mengoptimalkan imbal hasil.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar