Jakarta – Kinerja industri reksadana di dalam negeri menunjukkan tren pemulihan yang signifikan sepanjang Agustus 2026.
Peningkatan performa ini terjadi di tengah meningkatnya minat investor terhadap berbagai instrumen aset domestik.
Data dari Infovesta menunjukkan bahwa reksadana saham memimpin penguatan dengan mencatatkan imbal hasil bulanan sebesar 3,60 persen.
Namun, secara akumulatif sejak awal tahun atau year-to-date (YtD), reksadana saham masih berada di zona negatif dengan koreksi sebesar 11,60 persen.
Reksadana campuran menyusul dengan mencatatkan pertumbuhan bulanan sebesar 2,71 persen, meski secara YtD masih terkoreksi 4,88 persen.
Sementara itu, reksadana pendapatan tetap berhasil tumbuh 1,44 persen secara bulanan dengan imbal hasil YtD tipis di angka 0,07 persen.
Reksadana pasar uang menjadi kategori paling stabil dengan imbal hasil bulanan 0,44 persen dan mencatatkan kinerja YtD tertinggi sebesar 2,73 persen.
Penguatan kinerja reksadana ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 4,64 persen selama Agustus 2026.
Meskipun demikian, indeks acuan pasar modal tersebut masih mencatatkan penurunan sebesar 24,53 persen jika dihitung sejak awal tahun ini.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan menyatakan, membaiknya selera risiko investor terhadap aset domestik menjadi motor penggerak utama kinerja reksadana bulan lalu.
Menurutnya, tekanan pasar yang sempat mendominasi pada paruh pertama tahun ini mulai mereda seiring dengan membaiknya persepsi pasar.
Faktor utama yang kini menjadi perhatian investor adalah arah kebijakan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
“Prospek pertumbuhan domestik juga menjadi perhatian setelah RAPBN 2027, dengan agenda produktif seperti hilirisasi, food and energy resilience, infrastructure, health,” ujar Reza dikutip dari pernyataan resminya, Rabu (2/9/2026).
Agenda-agenda tersebut dinilai krusial karena berkaitan langsung dengan sektor-sektor yang akan mendapatkan dukungan belanja negara secara masif.
Selain kebijakan fiskal, keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P yang mempertahankan posisi Indonesia di level investment grade turut memperkuat kepercayaan investor.
Stabilitas peringkat tersebut memberikan sentimen positif bagi aset-aset dasar yang menjadi underlying produk reksadana, khususnya saham dan surat utang.
Ke depan, kinerja industri ini masih akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing yang masuk ke pasar domestik.
Selain itu, investor tetap perlu memantau kinerja laba emiten, tingkat likuiditas domestik, serta arah kebijakan moneter yang ditetapkan otoritas.
Sentimen eksternal, terutama kebijakan suku bunga The Federal Reserve dan ketegangan geopolitik global, juga masih menjadi variabel yang berpotensi memengaruhi pasar.
Realisasi dari agenda RAPBN 2027 nantinya akan menjadi penentu seberapa kuat dukungan fiskal dalam memacu aktivitas ekonomi nasional.





















