Vladivostok – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk mempererat kerja sama ekonomi dengan Rusia dalam perhelatan Eastern Economic Forum ke-11 yang berlangsung pada Kamis (3/9).
Kehadiran Presiden Prabowo dalam forum tersebut merupakan bentuk pemenuhan undangan langsung dari Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Dalam sesi pleno, Presiden Prabowo berbagi panggung dengan sejumlah pemimpin negara dan perwakilan pemerintahan, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Mongolia Nyam-Osoryn Uchral, Wakil Presiden Myanmar Nyo Saw, serta Wakil Perdana Menteri Cina Ding Xuexiang.
Lawatan ini menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai jembatan ekonomi yang menghubungkan kawasan Samudra Hindia, Samudra Pasifik, Timur Jauh Rusia, dan kawasan Eurasia.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya mengubah hubungan persahabatan tradisional antara kedua negara menjadi kerja sama ekonomi yang lebih konkret dan saling menguntungkan.
“Peningkatan ini akan didorong oleh perekonomian yang saling melengkapi,” kata Prabowo dalam pidatonya, sebagaimana disiarkan oleh kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis (3/9).
Ia menambahkan bahwa Indonesia siap memposisikan diri sebagai pintu masuk utama bagi pelaku usaha Eurasia yang ingin menjangkau pasar ASEAN yang memiliki populasi sebesar 680 juta jiwa.
Dari sisi perdagangan, Presiden Prabowo mencatat pertumbuhan positif dengan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia pada 2025 yang mencapai angka mendekati US$5 miliar.
Capaian tersebut mencatat kenaikan sebesar 21,7% dibandingkan tahun 2024 dan melonjak 33,7% dibandingkan tahun 2023.
Presiden Prabowo secara spesifik mengusulkan target ambisius untuk menggandakan nilai perdagangan tersebut pada periode peninjauan pertama perjanjian perdagangan bebas Indonesia-EAEU.
Potensi kerja sama ini didasarkan pada karakter ekonomi yang saling melengkapi, di mana Rusia memiliki keunggulan pada sektor gandum, pupuk, energi, hingga teknologi.
Sementara itu, Indonesia memiliki kekuatan besar pada komoditas sawit, perikanan, kopi, karet, tekstil, furnitur, dan berbagai barang konsumsi lainnya.
“Kekuatan satu pihak dapat menjawab kebutuhan pihak lainnya. Inilah fondasi perdagangan yang adil dan berkelanjutan,” ujar Presiden Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo mendorong peningkatan konektivitas fisik antara kedua negara, termasuk pembukaan jalur pelayaran langsung dari Vladivostok ke Indonesia untuk efisiensi distribusi barang.
Ia juga menyoroti pentingnya pembukaan penerbangan langsung guna meningkatkan arus pariwisata serta hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Terkait arah kebijakan luar negeri, Presiden Prabowo mempertegas bahwa Indonesia tetap memegang teguh prinsip politik bebas aktif dengan tidak bergabung dalam aliansi militer mana pun.
“Indonesia bekerja ke arah timur, barat, utara, dan selatan sebagai mitra yang berdaulat dan setara. Bagi kami, seribu teman masih terlalu sedikit. Satu musuh terlalu banyak,” tegasnya.
Presiden Prabowo juga menekankan bahwa pola kerja sama ekonomi yang mengutamakan konsultasi daripada konfrontasi, sebagaimana yang telah dipraktikkan ASEAN selama enam dekade, dapat menjadi model untuk menciptakan perdamaian global.























