Aman Agrindo (GULA) Perkuat Manufaktur demi Kembangkan Bisnis Terintegrasi

Rayhan Akhari

Aman Agrindo (GULA) Perkuat Manufaktur demi Kembangkan Bisnis Terintegrasi

Jakarta – PT Aman Agrindo Tbk (GULA) saat ini tengah melakukan perombakan strategis pada struktur bisnis intinya.

Emiten yang berbasis di Semarang ini memutuskan untuk bergeser dari model bisnis perdagangan gula menuju produsen gula terintegrasi.

Langkah ini diambil guna memperkuat kapasitas manufaktur sekaligus mengoptimalkan lini bisnis perkebunan tebu yang telah dirintis sejak tahun 2016.

Perusahaan yang melantai di bursa sejak 2013 tersebut selama ini sangat bergantung pada sektor perdagangan komoditas.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, seluruh pendapatan perusahaan sebesar Rp 144,32 miliar masih berasal dari segmen perdagangan.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 121,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 65,13 miliar.

Meskipun mencatatkan lonjakan penjualan, laba bersih perusahaan masih tertekan oleh beban keuangan yang mencapai Rp 5,35 miliar.

Hingga pertengahan 2026, perseroan hanya mampu mengantongi laba bersih sebesar Rp 34,84 juta, berbalik dari posisi rugi pada tahun lalu sebesar Rp 1,62 miliar.

Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk, Andreas Utomo, menegaskan bahwa transformasi ke arah manufaktur adalah bagian dari visi jangka panjang perseroan.

“Rencana kami ke depan yaitu untuk menambah terus kapasitas produksi sehingga kontribusi dari manufaktur sendiri bisa meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Andreas dikutip dari pernyataan resmi perusahaan, Sabtu (5/9/2026).

Fokus utama dalam ekspansi manufaktur ini adalah produksi gula merah atau brown sugar.

Produk tersebut diproyeksikan akan menyerap permintaan tinggi dari industri makanan dan minuman, terutama produsen kecap.

Andreas menilai tren konsumsi brown sugar kini telah meluas ke berbagai produk modern, tidak lagi terbatas pada penggunaan tradisional.

Fasilitas produksi brown sugar milik GULA yang berlokasi di Banten dijadwalkan mulai beroperasi komersial pada kuartal IV 2026.

Perusahaan memperkirakan tingkat utilisasi mesin baru tersebut akan mencapai 90% hingga 95% pada tahun pertama operasional.

Manajemen memproyeksikan operasional fasilitas baru ini akan mendongkrak pendapatan perusahaan sebesar 25% hingga 30%.

Dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun ke depan, kontribusi manufaktur ditargetkan mencapai 25% dari total pendapatan perusahaan.

“Kalau kami proyeksikan pertumbuhan pendapatan kami sebesar sekitar 25%–30% dengan penambahan pabrik gula baru tersebut,” ungkap Andreas.

Selain membangun fasilitas baru, GULA juga tengah membidik akuisisi pabrik gula yang sudah beroperasi di Sragen.

Langkah anorganik ini ditempuh untuk mempercepat penambahan kapasitas produksi tanpa harus melalui proses pembangunan dari nol yang memakan waktu lama.

Pabrik di Sragen dipilih karena telah memiliki akses pasokan tebu yang memadai dari lingkungan sekitar.

Akuisisi tersebut ditargetkan menambah kapasitas giling tebu sebanyak 1.000 ton per hari.

Manajemen memperkirakan aksi korporasi ini akan memberikan tambahan pendapatan sekitar Rp 175 miliar serta kontribusi EBITDA hingga Rp 50 miliar per tahun.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar