Membandingkan Pola Elektabilitas Prabowo dengan Pendahulunya di Tahun Kedua

Ikhwan Setiawan

Membandingkan Pola Elektabilitas Prabowo dengan Pendahulunya di Tahun Kedua

Jakarta – Dinamika politik nasional menunjukkan tren penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto yang cukup signifikan menjelang tahun kedua masa pemerintahannya. Berdasarkan data terbaru dari survei yang dilakukan, posisi elektabilitas sang kepala negara kini tertinggal jauh di bawah sejumlah tokoh politik lainnya.

Temuan riset terbaru yang diterbitkan pada akhir Agustus 2026 menempatkan elektabilitas Prabowo di angka 15%. Angka tersebut terpaut jauh dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang memuncaki daftar dengan perolehan elektabilitas mencapai 42%.

Posisi ketiga dalam survei tersebut ditempati oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dengan angka 10%. Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di urutan keempat dengan elektabilitas sebesar 6%.

Data ini sejalan dengan tren yang terekam dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli lalu. Saat itu, elektabilitas Prabowo berada pada kisaran 14,5%, sedangkan Dedi Mulyadi sudah menunjukkan dominasi dengan angka 35%.

General Manager Tempo Data Science, Khairul Anam, mengungkapkan bahwa kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu faktor pendukung utama bagi tingginya elektabilitas Dedi Mulyadi. Namun, ia menegaskan bahwa faktor tersebut bukanlah satu-satunya variabel penentu.

Dalam survei periode 31 Juli hingga 11 Agustus 2026, Dedi Mulyadi tercatat memiliki kesan positif di mata publik hingga 98%. Selain itu, pria yang akrab disapa KDM ini unggul dalam indikator top of mind dengan perolehan 30%, mengungguli Prabowo yang berada di angka 20%.

Survei tersebut melibatkan 1.260 responden yang memiliki hak pilih, tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Pengambilan data menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error sebesar -2,9%.

Khairul Anam menjelaskan bahwa fluktuasi elektabilitas Prabowo memiliki korelasi erat dengan penilaian publik terhadap kinerja pemerintah serta realisasi program-program strategis. Meski elektabilitas Prabowo masih cukup tinggi di kalangan pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), hal itu belum cukup untuk mengungguli Dedi Mulyadi secara keseluruhan.

“Karena itu, jika Prabowo ingin meningkatkan kembali elektabilitasnya, kuncinya cuma satu, perbaiki kinerja pemerintah. Perbaiki kondisi ekonomi dengan ciptakan lapangan kerja dan jaga harga-harga,” ujar Khairul Anam dalam pesan singkatnya, Jumat (4/9).

Penurunan elektabilitas ini berbanding lurus dengan merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Data survei mencatat tingkat kepuasan publik kini hanya berada di angka 37%.

Angka tersebut menunjukkan penurunan drastis jika dibandingkan dengan periode Desember 2025 yang mencapai 75% dan Maret 2026 sebesar 58%. Direktur Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai bahwa program unggulan seperti MBG kini justru berpotensi menjadi beban politik.

“Ditambah kembali ada beberapa insiden ratusan siswa keracunan MBG di Jawa Timur, Tana Toraja, Rembang, Berastagi,” kata Agung melalui sambungan telepon, Jumat (4/9).

Agung menambahkan bahwa tekanan ekonomi, terutama stabilitas harga kebutuhan pokok dan minimnya lapangan kerja, menjadi pemicu utama ketidakpuasan masyarakat. Sebanyak 68% responden menyatakan kondisi ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam analisisnya, Agung menyebut pola elektabilitas Prabowo saat ini cenderung terbalik dibandingkan masa awal pemerintahan Joko Widodo. Jika Jokowi memulai dengan kepuasan rendah dan meningkat di akhir periode, Prabowo justru mengalami penurunan setelah sempat mencatatkan tingkat kepuasan tinggi di awal masa jabatannya.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar