3 Hal Penting Diperhatikan Konsumen Sebelum Beli HP Saat Harga Naik

Kholida Rahman

3 Hal Penting Diperhatikan Konsumen Sebelum Beli HP Saat Harga Naik

Jakarta – Konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, kini menghadapi tantangan baru dalam memilih perangkat seluler seiring dengan proyeksi kenaikan harga jual rata-rata ponsel pintar yang mencapai 27,6% menjadi US$ 581 atau setara Rp 10,3 juta pada tahun 2026.

Lonjakan harga ini dipicu oleh kelangkaan cip memori global yang memaksa produsen mengalihkan kapasitas produksi DRAM dan NAND ke high-bandwidth memory (HBM) untuk kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (AI).

Data IDC menunjukkan bahwa cip memori untuk AI kini menyerap sekitar 70% dari total produksi global karena menawarkan margin keuntungan 3 hingga 5 kali lebih tinggi dibandingkan memori untuk perangkat konsumen.

Kondisi tersebut menyebabkan biaya komponen memori melonjak drastis, dengan kenaikan mencapai hampir 300% secara tahunan pada kuartal II 2026.

Tekanan biaya produksi ini memaksa vendor ponsel untuk melakukan penyesuaian strategi, mulai dari menahan spesifikasi RAM hingga menurunkan kualitas komponen pendukung lainnya seperti kamera, layar, dan audio.

Senior Analyst Counterpoint Research, Shenghao Bai, mengonfirmasi bahwa perubahan konfigurasi komponen tersebut kini mulai diterapkan secara luas pada berbagai model smartphone yang beredar di pasar.

Menanggapi fenomena ini, para ahli menyarankan konsumen untuk tidak lagi sekadar terpaku pada angka spesifikasi tinggi di atas kertas saat membeli perangkat baru.

Terdapat tiga aspek fundamental yang kini menjadi prioritas utama agar investasi pada sebuah ponsel pintar dapat bertahan lebih lama, yakni daya tahan baterai, konsistensi performa, dan umur pakai perangkat.

Terkait daya tahan baterai, konsumen diminta memperhatikan performa nyata perangkat untuk penggunaan satu hari penuh, serta memastikan kualitas baterai tetap terjaga hingga dua atau tiga tahun ke depan.

Dalam hal konsistensi performa, perangkat harus mampu tetap responsif saat berpindah aplikasi dan tidak mengalami penurunan kecepatan yang signifikan setelah satu tahun pemakaian rutin.

Aspek umur pakai pun menjadi krusial, di mana konsumen disarankan memeriksa ketersediaan suku cadang serta durasi dukungan pembaruan sistem keamanan dari produsen.

Ketidakpastian pasokan memori ini diprediksi akan berlangsung cukup lama, dengan estimasi pemulihan produksi baru akan terjadi pada tahun 2027 dan tekanan harga bertahan hingga 2028 atau lebih.

Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices, Nabila Popal, menegaskan bahwa struktur pasar smartphone telah berubah secara permanen.

“Era smartphone ultramurah telah berakhir,” ujarnya dikutip dari siaran pers, Sabtu (5/9).

Dampak paling signifikan dirasakan oleh segmen ponsel kelas bawah atau entry-level yang mengalami kenaikan biaya komponen sebesar 20% hingga 30% sejak awal tahun.

Di pasar Indonesia, segmen ponsel dengan harga di bawah US$ 150 atau sekitar Rp 2,7 juta mencatatkan penurunan pengiriman sebesar 19% secara tahunan.

Sebaliknya, segmen ponsel premium di atas harga Rp 10,6 juta justru menunjukkan tren pertumbuhan sebesar 30% di tengah pergeseran preferensi konsumen.

Akibat keterbatasan anggaran, banyak konsumen kini cenderung menunda pembelian perangkat baru atau beralih ke pasar ponsel bekas dan refurbished.

Senior Analyst Counterpoint Research, Shilpi Jain, menilai bahwa segmen entry-level menjadi kelompok yang paling terpukul oleh kondisi ekonomi ini.

Strategi selektif dalam memilih gawai kini menjadi kebutuhan mutlak bagi konsumen untuk menghadapi realitas pasar yang semakin mahal dan kompetitif.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar