Jakarta – Harga komoditas minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global terus menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2026.
Data Trading Economics menunjukkan harga CPO telah melonjak sebesar 21,70% secara year to date hingga Jumat (4/9/2026) dengan menyentuh level MYR 4.929 per ton.
Kenaikan harga yang signifikan di pasar internasional ini menjadi katalis utama bagi penguatan saham-saham emiten sektor sawit di Bursa Efek Indonesia.
Saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mencatatkan lonjakan harga paling impresif dengan kenaikan mencapai 48,67% sejak awal tahun.
Emiten PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mencatatkan performa serupa dengan kenaikan saham sebesar 41% dalam periode yang sama.
Sementara itu, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) terpantau menguat sebesar 15,93% secara year to date.
Research Associate Panin Sekuritas Luthfi Novardiansyah menyatakan bahwa penguatan harga CPO dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi penurunan produksi akibat fenomena iklim El Nino.
Selain faktor cuaca, kebijakan pemerintah dalam memperluas program biodiesel B50 menjadi faktor krusial yang mengerek harga di pasar.
Program B50 yang mulai diimplementasikan sejak 1 Juli 2026 telah menyerap pasokan CPO domestik dalam jumlah besar.
“Risiko penurunan produksi dan implementasi B50 membuat pasokan CPO global semakin ketat,” ujar Luthfi pada Jumat (4/9/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor CPO Indonesia hingga Juli 2026 mengalami kontraksi sebesar 6,97% secara tahunan.
Meskipun volume pengiriman ke luar negeri menyusut, nilai ekspor nasional justru meningkat tajam hingga mencapai US$ 14,79 miliar.
Kondisi ini terjadi karena pasokan sawit domestik kini lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan program biodiesel nasional dibandingkan untuk ekspor.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pasar saat ini lebih memprioritaskan kenaikan harga jual rata-rata sebagai penopang profitabilitas emiten.
Menurut Nafan, selama tren harga jual tetap terjaga, kinerja keuangan perusahaan sawit diproyeksikan akan tetap stabil hingga akhir tahun 2026.
Meski prospek sektor ini dinilai positif, investor tetap diminta waspada terhadap berbagai risiko yang mungkin terjadi di masa depan.
Risiko tersebut mencakup potensi koreksi harga setelah reli panjang, kenaikan biaya operasional, hingga perubahan kebijakan pemerintah.
Selain itu, Nafan mengingatkan bahwa lonjakan harga CPO yang terlalu tinggi dapat memicu sensitivitas permintaan dari negara importir utama seperti India.
Terkait strategi investasi, Nafan merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dengan target harga Rp 1.795 per saham.
Selain itu, saham LSIP juga masuk dalam daftar rekomendasi dengan target harga di level Rp 1.875 per saham bagi para pelaku pasar.



















