Jakarta – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menetapkan target ambisius bagi anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau yang dikenal dengan nama InfraNexia, untuk meningkatkan porsi pendapatan dari pelanggan eksternal hingga mencapai kisaran 25% hingga 30%.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya diversifikasi basis pelanggan perusahaan di luar ekosistem grup.
Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, menyatakan bahwa saat ini kontribusi pendapatan dari pelanggan di luar Telkom Group masih berada di angka 10% hingga 15%.
“Dari sisi komersial, saat ini kontribusi pelanggan eksternal berada dalam kisaran 10%–15% dari pendapatan InfraNexia. Ke depan kami mengharapkan kontribusi tersebut semakin meningkat, sekitar 25%–30%,” ujar Budi dalam paparan publik, Senin (7/9/2026).
Meski berupaya memperluas jangkauan pasar ke pihak luar, Budi menegaskan bahwa Telkom Group akan tetap memegang peranan sebagai penyokong utama kebutuhan infrastruktur perusahaan.
Telkomsel dipastikan akan terus menjadi salah satu pelanggan utama bagi InfraNexia guna menjaga stabilitas arus kas.
“Keberadaan Telkom Group sebagai anchor demand memberikan basis pendapatan yang kuat bagi Infranexia sekaligus mendukung pengembangan bisnis kepada pelanggan eksternal,” tutur Budi.
Saat ini, pembentukan entitas FiberCo tersebut telah memasuki fase kedua dari rangkaian proses bisnis yang telah direncanakan.
Fase pertama operasional perusahaan telah berhasil dirampungkan pada Desember 2025 lalu.
Dalam fase pertama tersebut, Telkom melakukan pengalihan lebih dari 50% aset fiber optik terpilih dengan nilai transaksi mencapai Rp 35,8 triliun.
Sementara itu, fase kedua yang sedang berjalan mencakup pengalihan sisa aset fiber optik, kontrak kerja sama, serta sumber daya operasional lainnya.
Proses integrasi tahap kedua ini ditargetkan tuntas sepenuhnya pada periode akhir September hingga awal Oktober 2026.
“Pelaksanaan tahap kedua Infranexia masih berjalan dengan target penyelesaian sekitar akhir September hingga awal Oktober 2026,” kata Budi menambahkan.
Budi menjelaskan bahwa terdapat pergeseran jadwal penyelesaian fase kedua dari rencana awal yang telah ditetapkan sebelumnya.
Hal tersebut disebabkan oleh adanya kebutuhan pekerjaan tambahan yang muncul pasca-pelaksanaan restatement atau penyajian kembali laporan keuangan tahun buku 2025.
Selain itu, penyelesaian dokumentasi transaksi yang cukup kompleks turut memengaruhi linimasa penyelesaian tahapan tersebut.
Manajemen memastikan bahwa seluruh proses transisi aset dan operasional dilakukan dengan mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi serta prosedur persetujuan yang berlaku.
Ekspansi bisnis yang dilakukan InfraNexia diproyeksikan akan memperkuat posisi Telkom dalam industri infrastruktur telekomunikasi nasional.
Dengan model bisnis FiberCo, Telkom berharap dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memaksimalkan pemanfaatan aset infrastruktur yang dimiliki perusahaan.






















